Wajah Maumere, Dua Dekade Setelah Tsunami

 

Kampung Wuring

Kampung Wuring

 

Penerbangan 45 menit dari Eltari Kupang ke Maumere tidak cukup membayar kekurangan waktu tidur sehingga saat mendarat pukul 07.15 Witeng aku masih berharap dapat tidur dalam lanjutan perjalanan darat.

Ternyata Yani dan Om Gonce yang menjemput di Bandara Frans Seda punya rencana yang jauh lebih menarik dari tidur di mobil, yaitu melihat kota Maumere yang sudah memulai aktifitasnya. Maumere, ibukota kabupaten Sikka terletak di propinsi Nusa Tenggara Timur, mayoritas penduduknya beragama Katolik. Kehidupan masyarakat Katolik yang taat terlihat dari banyaknya seminari dari Larantuka hingga Ende.

Kabupaten Sikka memiliki garis pantai yang panjang diapit oleh Laut Flores dan Laut Sawu terdiri dari 21 kecamatan dengan penghasilan utama dari perkebunan seperti kopi dan kemiri.

Ibukota Maumere yang berarti pantai besar dalam bahasa Lio, terletak di teluk Maumere menghadap Laut Flores.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah Kampung Wuring, kawasan di sebelah barat kota Maumere ini pernah habis diterpa tsunami tahun 1992. Ketika kami tiba, kampung ini sudah bangkit dari musibahyang pernah menghancurkannya, pemukiman dan prasarana sudah berfungsi penuh. Kampung terapung ini mayoritas  didiami suku Bajo dan Bugis yang berprofesi sebagai nelayan.  Rumah mereka dibangun diatas cerucuk-cerucuk yang tertanam kokoh di dasar pantai dengan beberapa batang kayu sebagai penghubung antar tetangga. Saat pasang naik,  muka air seperti akan menggapai lantai rumah.

Kami meninggalkan kampung Wuring yang mulai sepi dari kesibukannya karena matahari mulai tinggi, menuju Pelabuhan Laut Sadang Bui yang sekarang menjadi Pelabuhan Laurens Say. Beragam kesibukan di pelabuhan, dari bongkar muat kapal tradisional dengan dipanggul meniti balok yang menjadi jembatan penghubung ke dermaga hingga kapal TNI AL dan kapal phinisi dengan tiang layar ganda. Langit indah yang membingkai pelabuhan ini kami tinggalkan saat menjelang jam makan siang untuk menuju pusat kota.

Ditengah kota Maumere terdapat patung Kristus Raja yang dibangun kembali menjelang kunjungan Paus Yohanes Paulus II tahun 1989 setelah runtuh pada jaman pendudukan Jepang. Patung ini terletak di seberang Gereja Katedral Maumere, menjadi kebanggaan masyarakat dan dianggap sebagai simbol pelindung kota.

Petang itu kami habiskan di ujung pantai Waiara yang indah, ditemani beberapa nelayan beristirahat di bawah rindang pohon sambil memperbaiki jala.

 

Apron Bandara Frans Seda, Maumere

Apron Bandara Frans Seda, Maumere

 

Penahan gelombang Pelabuhan Sadang Bui

Penahan gelombang Pelabuhan Sadang Bui

 

Kapal Phinisi sandar di Pelabuhan

Kapal Phinisi sandar di Pelabuhan

 

 

Bongkar muat di pelabuhan

Bongkar muat di pelabuhan

 

Patung Yesus Kristus di seberang Gereja Katedral Maumere

Patung Yesus Kristus di seberang Gereja Katedral Maumere

 

Memperbaiki jala di sudut Waiara

Memperbaiki jala di sudut Waiara

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s