Tenun Ikat, Nadi Kehidupan Desa Sikka

 

Oma Sikka, pelaku tradisi tenun

Oma Sikka, pelaku tradisi tenun

Jalan kecil dibelakang gereja St. Ignatius Loyola Sikka mengantar kami ke suasana yang berbeda, suatu desa kecil di pulau Flores yang menghadap laut Sawu. Desa Sikka di kecamatan Lela kami capai dalam 1,5 jam perjalanan dengan mobil sewa dari Maumere menuju Danau Kelimutu di desa Moni. Bandara Frans Seda di Maumere, Nusa Tenggara Timur dilayani penerbangan dari Jakarta melalui Denpasar atau Kupang

Pagi itu desa yang tadinya sepi saat kami tiba, dalam sekejap sudah ramai dengan para ibu yang membentangkan kain hasil tenun mereka. Alam pantai bagai etalase megah tempat memamerkan kain tenun disampirkan pada tali yang ujung-ujungnya terikat pada pohon dan tiang rumah.

Kampung Sikka

Seorang ibu menawarkan untuk menunjukan proses pembuatan tenun ikat Sikka dan dengan segera aku setuju, lalu dalam hitungan menit bahan dan peralatan untuk demo sudah terjajar rapi di bawah kerimbunan pohon-pohon di halaman desa.

Proses kapas hingga benang

Kapas dibersihkan dari biji dan sisa-sisa kelopak buah lalu serat kapas dihaluskan dengan alat serupa busur kecil, kemudian dipilin menggunakan telapak tangan.  Pilinan ini kemudian dipintal menjadi benang panjang tidak terputus.

Memintal kapas menjadi benang

Gulungan benang pintal yang berfungsi sebagai benang lungsi dibentangkan dan diikat dengan serat pandan untuk memberi pola motif. Proses ini disebut pete bungang.

Proses ikat untuk memberi pola motif tenun

Gulungan benang lungsi yang sudah diikat sesuai pola motif yang diinginkan kemudian melalui proses pewarnaan dengan dicelupkan dalam pewarna alami atau sintetis. Pewarna alami memanfaatkan kulit pohon, daun bahkan akar yang ditumbuk halus. Warna biru kerap menggunakan batang dan daun Indigo sedangkan merah didapat dari akar Mengkudu. Proses pewarnaan ini disebut tarung bur.

Pewarna alami tidak secerah warna-warna sintetis namun akan membuat warna kain semakin lama semakin pekat.

Pewarnaan dengan proses celup

Usai diberi warna benang dibiarkan hingga kering lalu direntangkan pada rangka benang lungsi dengan pola warna menjadi ragam hias acuan benang pakan ditenun.

 

Menata benang lungsi untuk membentuk pola hias

Rentangan benang lungsi ini kemudian ditenun dengan pola benang yang tidak terwarnai sebagai acuan benang pakan ditenun.

Loru, menenun tenun ikat

Disebut tenun ikat karena ragam hias berasal dari benang lungsi yang diikat dan dicelup dalam proses pewarnaan sehingga bagian ikatan tersebut tidak berwarna. Pola yang dibentuk oleh proses pewarnaan  inilah yang menjadi pola atau patrun penenun untuk membentuk ragam hias pada kainnya. Keahlian mereka membentuk ragam hias mengalir secara apa adanya tanpa perlu memvisualkan dalam gambar disain atau pola sehingga jarang didapat dua buah lain yang sama persis.

 

Keahlian, ketekunan dan kesetiaan mereka yang diwariskan turun temurun, menghasilkan kain luar biasa indah dan dipakai masyarakat dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Penggunaan kain dalam keseharian masyarakat, kebutuhan memenuhi persyaratan dalam acara adat dan perkawinan, ditambah apresiasi kita sesama anak bangsa, aku yakin kemampuan membuat kain tenun ini akan terus diwariskan dan dilestarikan.

 

Mengutip ikon Daniel Mananta…. Damn I love Indonesia…

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s