Catatan Perjalanan Nusa Tenggara Timur

Jembatan di kab. Oenino

Jejak Raut di Amanuban Selatan

Penerbangan Lion Air menuju Kupang via Surabaya sore itu sempat tertunda hampir satu jam namun seperti sudah menjadi rumus, penundaan sejam tidak akan terasa bila dilalui bersama dalam kelompok besar. Kelompok besar ini terdiri dari 76 peserta Mission Trip GKY.

Kesibukan check in dengan demikian banyak bagasi dan logistik sudah terlewati dan aku mulai terlelap pada saat masih menunggu pesawat lepas landas. Belakangan ini memang waktu menunggu antrian take off di Bandara Sukarno Hatta sudah dipahami….lamaaaaa sekali.

Kabin pesawat mulai riuh kembali saat transit di Surabaya, kotak berisi roti dan makanan kecil berseliweran ditawarkan dari depan ke belakang hingga kembali lagi ke bagian depan kabin disertai obrolan dan guyonan.

Mendarat di Bandara Eltari sudah cukup larut, tanpa menunggu bagasi kami langsung diantar ke Gereja untuk acara penyambutan dari pihak panitia GMIT AGAPE, sedangkan bagasi akan dikirim langsung ke hotel. Penyambutan disertai pengalungan Selendang Adat dan makan malam (pertemuan pertamaku dengan Se’i terjadi di sini melalui nasi box yang nikmat itu).

Selendang Tradisional

Sampai ke kamar hotel sudah lewat tengah malam. Kami yang masuk dalam team 2 hampir seluruhnya ditempatkan di Hotel Royal sedangkan team 1 ditempatkan di Hotel Ima.

Day Two

Setelah breakfast di Ima, rombongan bergerak ke Amarasi sekitar pukul 8 untuk Pengobatan Gratis di Betesda Buraen.

Timbul jeda waktu menunggu logistik yang terlambat tiba karena kendaraan logistik harus menurunkan supply bagi team 1 dulu. Tidak terlalu timbul masalah karena pasien yang moderate jumlahnya.

Sedikit keriuhan terjadi saat mencicipi  Sirih Pinang yang disuguhi bersama kapur sirih. Bentuk sirih sempat menjadi pertanyaan karena di Jawa dan Sumatera dikenal daun Sirih sedangkan yang disini berbentuk buah bukan daun.

Sirih Pinang

Pengobatan gratis dilaksanakan di ruang belakang gereja hingga menjelang sore lalu lanjut dengan KKR Pemuda /Remaja di GMIT Efata Oesena yang berjarak 15 menit perjalanan.

Kami tiba kembali ke tempat penginapan saat menjelang tengah malam.

Day Three

Perjalanan 2,5 jam Kupang – Soe mengawali hari ini.
Singgah di Hotel Bahagia hanya untuk menurunkan koper lalu perjalanan lanjut lagi selama 2 jam ke Oe Ekam.

Suasana kering sangat terasa…kontras dengan banyaknya nama desa dan kecamatan memakai kata Oe yang berarti air.  Ketersediaan air bersih di daerah ini sangat tergantung pada bantuan mobil tangki.

Lopo, Rumah tinggal peladang di Kec. Oenino, Timor Tengah Selatan

Saat berada di daerah ini… Saat melihat bagaimana anak-anak dan perempuan harus menempuh perjalanan jauh untuk kembali kedesa dengan memanggul satu jerigen berukuran sedang berisi air…. aku merasa bertindak seperti bandit bila menggunakan air semauku, seenak jidatku…

Sempat berhenti untuk makan siang dengan nasi kotak yang dimakan di area pasar yang kosong menunggu hari pasar.

Lapak menunggu hari pasar, suatu titik dalam perjalanan menuju Oe Ekam

Alur sungai dengan sisa hujan yang turun dua hari silam

Beberapa penduduk setempat yang mendatangi kami sempat dilayani berobat.

Pengobatan gratis berlangsung di dalam gereja GMIT Nazareth Oe Ekam, terasa sepertinya tak akan pernah berakhir karena pasien yang datang seperti tak habisnya. Hingga KKR dimulai selepas makan malam, pelayanan terpaksa tetap dilanjutkan dalam ruangan sesak dan penerangan seadanya.

Malam itu perjalanan kembali ke Soe…

And I’m dragging myself to my room..quick shower and fell a sleep in seconds.

Day Four

I’m on time..seperti biasanya. Mungkin karena terlalu lelah, banyak teman2 yang terlambat sarapan. Keterlambatan ini membuat perjalanan 2,5 jam pagi itu menjadi terlambat pula.

Keterlambatam ditambah lagi salah satu kendaraan harus mengganti ban ditengah perjalanan, berakibat terlambat mengikuti Kebaktian Minggu di GMIT Imanuel Oehani.

Selesai kebaktian, persiapan dimulai di beberapa tempat dengan pengobatan menggunakan ruang kebaktian.

Aku harus meninggalkan Oehani sekitar pukul 3,  kembali ke Kupang menumpang kendaraan yang kembali dari mengantar rombongan pertama.

Dalam kebisuan perjalanan ke Kupang aku kembali menapaki awal perjalanan ini di dalam pikiran. Ada begitu banyak beban saudara-saudaraku ini. Begitu banyak negara berhutang kesejahteraan kepada rakyatnya di sini. Sangat sedikit yang bisa kami lakukan di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s