UNTANNUN KAMELOAN

Pori Lonjong ukuran 978 x 178 cm untuk membungkus bangunan

Di balik pagar yang membatasi trotoar penuh pedagang barang bekas di jalan Petamburan No. 4 Tanah Abang, terhampar halaman luas dengan gedung tua abad ke 19 yang menjadi Museum Tekstil. Di sini digelar pameran kain tenun dari Toraja, Mamasa, Mamuju, dan Rongkong dengan tajuk Untannun Kameloan.

Melewati pintu masuk gedung, disambut dua penenun yang menunjukan proses menenun kain Toraja masa kini. Aku sempat bertemu dengan Dinny Jusuf dari Toraja Melo, yang menyarankan untuk bergabung dengan rombongan Wastra Tour dengan Ibu Judi Achjadi sebagai nara sumber, selain  paham sekali mengenai kain tenun dari Toraja, Mamasa, Mamuju dan Rongkong Ibu Judi juga mampu menjelaskan dengan sederhana sehingga dapat dipahami. Beberapa kali ia mengutip penelitian Keiko Kusakabe, guru besar Tokyo Metropolitan University yang mendalami kain Sulawesi (http://www.fashionpromagazine.com/?p=5244)

Pewarnaan kain banyak menggunakan bahan alami yang tersedia disekeliling masyarakat. Selain daun, akar dan batang tumbuhan juga banyak menggunakan lumpur sebagai bahan pewarna.

Detail Pori Lonjong

Pencirian kain dari daerah Rongkong, Sulawesi Selatan, berupa garis pada sisinya dan hasil tenun yang lebih tipis. Berbeda dengan kain dari Mamuju, Sulawesi Barat, yang tebal oleh karena penggabungan 5 helai benang menjadi satu pada saat ditenun serta tidak mengenal warna biru.

Sedangkan dari Mamasa ditampilkan juga Tablet Weaving yang menggunakan kotak pipih persegi ( card ) untuk membentuk pola. Untuk hasil seperti foto yang ada paling sedikit menggunakan 24 kotak pipih.

Tablet Weaving dari Mamasa

Tak hanya kain kuno atau kain sakral Toraja ( sarita dan maa’ ) namun kain masa kini pun ditampilkan dalam warna cerah dan motif menarik seperti Pamiring, Borong-borong, Paramba’, Matapa’, Pa Bunga Bunga’, Paruki’.

Tenun Toraja Masa Kini

Mengunjungi Untannun Kameloan ini membuat aku merasa seperti menjalani jejak yang bergerak mundur dari Museum Tekstil ini ke perjalanan Makassar tahun 2009. Saat pulang dari sana tas dipenuhi kain tenun Toraja tanpa memahami proses dan kekayaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s