4th TEDxJakarta event….an inspiring, mindboggling, exhilarating event

Kehadiran ku pada 4th TEDxJakarta merupakan kehadiran yang kedua setelah 2nd event di Kemang Village 26 Juli 2009 yang lalu.

Acara kali ini diadakan di teater gedung Menpora tanggal 15 Mei 2010 dimulai dengan registrasi jam 13.30.

Kalau pada 2nd event,  hadir sebagai pembicara adalah Marco Kusumawijaya (urbanist ), Dr. Reynaldo Zoro ( lightning expert ), Yoris Sebastian ( creative practical ) dan Hendro Sangkoyo ( co-founder of School of Democratic Economics ), tetapi event kali ini topiknya berbeda.

Tampil sebagai pembicara adalah

Elang Gumilang yang bergerak dalam bidang property yang membangun rumah sederhana untuk masyarakat kecil dengan cicilan hanya 80 ribuan perbulan (kalau aku tidak salah ingat).

Wahyu Aditya mengusung “Nasionalisme Gaul” yang pada intinya mencoba membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan muda melalui disain grafis yang menjadi keahliannya.

Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina,  memberikan gambaran dunia pendidikan kita sekarang dan apa yang telah dilakukan oleh Universitas Paramadina.

Tri Mumpuni, yang memberdayakan masyarakat miskin dipelosok Indonesia dengan mengusahakan adanya aliran listrik di desa-desa terpencil. Kiprah ibu ini sempat disebut oleh Presiden Obama sebagai “Social entrepreneur for rural electrification” pada  Presidential Summit on Entrepreneurship bulan April 2010.

Ditambah suguhan musik kreatif dari Kunokini yang memainkan kumpulan perkusi membran jadul, dalam musik masa kini.

Lagu Rasa Sayange dan Janger dinyanyikan dengan nuansa Rap dan sentuhan Reggae menjadi sangat “masa kini”.

Semua speakers membagi ide dan pandangan atas apa yang telah mereka lakukan dengan cara yang menarik tapi aku ingin mengutip apa yang dibicarakan oleh Anies Baswedan tentang pendidikan kita untuk menjadi perenungan kita.

Kurang lebih inilah pemikiran yang dipaparkannya….

Pada saat Republik Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, ada 4 hal yang dijanjikan kepada rakyatnya yaitu;  melindungi, mencerdaskan, mensejahterakan dan memungkinkan untuk berpartisipasi diantara bangsa-bangsa di dunia.

Mencerdaskan bangsa, dalam satu perspektif, pendidikan dapat dipahami sebagai usaha untuk menghasilkan manusia cerdas tetapi dalam perspektif yang lain, pendidikan dapat dipakai sebagai instrumen rekayasa untuk masa depan. Apa yang mereka dapatkan dalam pendidikan saat ini menentukan dimana mereka berada pada 20 atau 30 tahun kedepan. Dalam pemahaman ini dapat dikatakan, orang yang bertanggungjawab untuk pendidikan merupakan arsitek masa depan dalam konteks suatu bangsa.

Ketika republik ini berdiri pada tahun 1945 kira-kira ada 75 juta jiwa penduduk Indonesia.

Dari jumlah itu hanya 5% yang melek huruf dan 95% sisanya buta huruf.

Kemudian setelah masa 5 tahun pertempuran selesai maka pada tahun1950 para pemimpin saat itu mulai mendirikan SMA didaerah-daerah dan diluar kota-kota besar. Sebelumnya Sekolah Menengah Atas hanya terpusat dikota besar.

Masalahnya kemudian, bukan pada bangunan sekolahnya melainkan pada pengadaan pengajar. Maka dikirimlah para mahasiswa untuk mengajar melalui program PPM ( Pengerahan Pengajar Mahasiswa ).

Sepuluh tahun kemudian pada tahun 1960, lulusan SMA dari seluruh Indonesia ini siap memasuki perguruan tinggi yang ada.

Pertama kali dalam sejarah republik ini, anak-anak kaum biasa dapat memasuki jenjang perguruan tinggi. Sebelumnya hal ini belum pernah terjadi. You got to be somebody to be  a student in a university, kalau bukan anak dari keluarga kaya paling tidak harus berasal dari keluarga terpandang atau pejabat.

Pada tahun 1970, para lulusan perguruan tinggi ini siap mengisi Indonesia yang sedang membangun hingga pada tahun 1980 mereka menjadi “kelas menengah” pertama di Indonesia.

Kalau dilihat apa yang dilakukan para pemimpin di tahun 1950 itu merupakan rekayasa struktural yang jenius.

Saat itu anak-anak kaum biasa  ( children of nobody ) direkayasa hingga dapat berada dalam eskalator yang membawa mereka menjadi kelas menengah yang mandiri. Pendidikanlah yang menjadi eskalator itu!

Siapa yang menjadi “anak-anak kaum biasa” pada jaman itu? Mereka adalah orang tua kita yang pada akhirnya membawa kita menjadi kelas menengah yang mandiri.

Kepada orang tua kita, janji kemerdekaan itu telah dipenuhi oleh para pemimpin masa itu.

Sekarang keadaannya berbeda tetapi tetap ada kelompok yang tidak mandiri dalam mengelola kehidupan mereka…..

Ada empat kwadran dalam masyarakat kita sekarang, kelompok kaya yang pandai, kelompok kaya tidak pandai, kelompok miskin tapi pandai serta kelompok miskin dan tidak pandai.

Kelompok pertama dan kedua tidak memiliki persoalan untuk mandiri mengelola kehidupan mereka.

Bagaimana kelompok yang miskin tapi pandai? Mereka dapat berada dalam eskalator yang membawa mereka menjadi kelas menengah yang mandiri melalui pendidikan dengan beasiswa.

Persoalan pelik timbul bagi kelompok yang miskin dan tidak pandai karena tentunya mereka tidak dapat meraih beasiswa, padahal mereka termasuk kelompok yang besar jumlahnya dinegara ini. Sehingga dikuatirkan kalau kelompok menengah 20 atau 30 tahun mendatang berasal dari kelompok menengah sekarang ini dan kelompok miskin tidak berpendidikan akan tetap tertinggal tidak terangkut oleh eskalator struktural.

Apa yang dilakukan oleh  kelompok Paramadina adalah menyediakan alokasi tempat pada jurusan-jurusan yang kurang peminatnya bagi kelompok miskin tidak pintar ini tanpa dipungut bayaran sedikitpun. Kelompok ini diberikan kepada para penduduk disekitar kampus mereka.

Apakah Perguruan tinggi ini merugi? Tidak karena cost pendidikan tidak dihitung perorang tapi perkelas ( mirip dengan dunia penerbangan dimana pesawat itu penuh atau kosong, biaya sekali penerbangan itu tetap sama ). Jadi suatu kelas berisi 26 mahasiswa atau 30 mahasiswa, biaya operasionalnya tetap sama. Dengan kata lain pendidikan gratis diberikan kepada kelompok ini tetapi mereka tidak dapat memilih jurusan melainkan ditempatkan pada jurusan yang tidak penuh peminatnya.

Menurutku memang hal ini tidak sempurna tetapi setidaknya mereka telah melakukan sesuatu daripada menunggu pemerintah bertindak mengatasi jurang yang ada dalam masyarakat kita.

Semoga akan lebih banyak lembaga pendidikan yang melakukan hal-hal seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s