Love is a verb

Mahkota duri

Good Friday, setelah mendengarkan khotbah Pdt Tommy Elim.

Lukas 23 : 33 – 43

(34) Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Kasih itu bukan sesuatu yang hanya untuk dibicarakan, bukan pula bahan diskusi semata.

Kasih itu sesuatu yang dinyatakan dalam tindakan karena itu kasih memiliki esensi kata kerja bukan kata benda atau kata sifat.

Love is a verb.

Pertanyaannya adalah, Seberapa besar kasih Allah bagi kita?

Sebagai manusia  kita terbiasa merespon sesuatu berdasarkan stimulus, sehingga semua nalar kita terbiasa dengan hubungan sebab akibat.

Aku dipukul maka aku balas memukul, aku disepelekan maka aku memaki, aku terancam lalu aku mengintimidasi, engkau baik aku akan baik kepada mu, engkau memberi maka aku akan bermurah hati….dan seterusnya.

Lain hal yang terjadi di Bukit Golgota pada saat Yesus disalibkan oleh orang orang yang ditebusNya, Ia tidak balas mengancam atau mengutuki orang yang menindasNya saat itu.

Yesus telah diperlakukan dengan buruk tetapi malah Ia mohon pengampunan bagi mereka yang menganiaya diriNya.

Secara manusiawi respon seperti ini tidak cocok dengan stimulus yang diterima.

Tetapi inilah arti pelayanan yang sesungguhnya, kasih dan pengorbanan tidak pernah henti dalam pelayanan.

Hingga tiba saatnya Yesus berkata dalam desahan nafas yang terakhir…………… te telestai……sudah selesai dengan sempurna tugas pengorbananNya

Pengorbanan bukan suatu tanda kekalahan melainkan “a token of love”, tanda cintaNya kepada manusia.

Supaya kita tidak menerima murka Allah oleh sebab sudah ditebus dengan cara memberikan diriNya melalui penderitaan yang luar biasa, sebagai ganti.

Ini takaran seberapa besar kasih Allah bagi kita.

Dia memberikan kasih dengan sempurna.

Sekarang tinggal pertanyaan yang belum terjawab oleh kita, seberapa besar kasih kita bagi Allah?

Aku tak sanggup menjawab pertanyaan itu.

Aku hanya mampu berbisik….

Allah…aku bersyukur memiliki Allah yang penuh kasih, yang mengasihi kami dengan tanpa batas, dengan tanpa takaran.

Allah….aku bersyukur memiliki Allah yang tidak merespon berdasarkan stimulus yang diterima.

Karena aku tidak mampu membalas takaran cinta Mu ya Tuhan.

Karena besaran kasih ku kepada Mu sangat tidak layak.

Aku sering lupa dan lebih sering lagi lalai melibatkan Engkau dalam hari-hari ku.

Aku sering merebut tahta Mu dan menguasai kehidupan ku seperti akulah sipenguasa hingga aku mudah terjungkal.

Aku bersyukur Engkau bukan bereaksi berdasarkan besar kasih ku kepada Mu, hingga saat ini aku berada di sini tergugu menyanyikan bait-bait,

Ya Abba, Bapa ini aku anak Mu layakkanlah seluruh hidupku,

Ya Abba, Bapa ini aku anak Mu pakailah hidupku sesuai rencana Mu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s