Tetelestai

Dalam bahasa Yunani kata ini berarti “sudah selesai” tetapi bukan hanya sekadar selesai saja melainkan diselesaikan, ditunaikan dengan sempurna.

Inilah kata terakhir Yesus pada saat menyelesaikan tugasNya, mati di Kayu Salib.

Ia telah menyelesaikan tugasNya dengan sempurna, tanpa cela.

Menerima cawan yang pahit, dari fitnah tak berbukti hingga siksa tak terhingga, di  dalam kesendirianNya.

Inilah thema Kebaktian Jumat Agung di GKY Greenville dengan khotbah dari GI. Jeffry Siaw.

Drama mengambil moment saat Yesus berada dan berdoa di Taman Getsemani ditemani oleh ketiga murid yang dikasihinya. Matius 26:36-46.

Tiga kali ia berdoa dalam pergumulan dan Ia ditinggal tidur oleh murid-murid yang seharusnya turut berdoa bersamaNya.

Matius 26:40. Setelah itu Ia kembali kepada murid-muridNya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut tetapi daging lemah”

Di sini di Taman Getsemani, Yesus merasa hatiNya sangat sedih hingga mau mati rasanya ( Matius 26:38, Markus 14:34 ).

Di sini di Taman Getsemani, Yesus merasakan beratnya cawan yang harus Ia minum. Ia bergumul sehingga peluhNya menetes seperti titik-titik darah ke tanah ( Lukas 22:44b ).

Di sini di Taman Getsemani, Seorang malaikat menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan ( Lukas 22:43 )

Di sini di Taman Getsemani, Yesus mengatakan: “….Saatnya sudah sudah tiba, lihat Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”

Di sini di Taman Getsemani, Yesus paham bahwa sudah tiba saatnya Ia melakukan kehendak Tuhan untuk menyerahkan nyawaNya sebagai tebusan dosa manusia.

Getsemani dalam kehidupan kita adalah titik tolak untuk menjalani  jalan yang sunyi dimana kita merasa sendirian, gelisah, takut serta segala ketidak pastian.

Di Getsemani kita diberikan kekuatan dari Tuhan dan hanya Tuhan saja, untuk menjalani cawan pergumulan yang bila hanya bersandar pada kedagingan kita pasti akan menolaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s