Congo Cafe

Dapat menelusuri jalanan di kota Bandung yang tidak terlalu ramai pada week end merupakan hal yang diluar dugaan sekaligus menyenangkan. Kemarin dan hari ini aku rasakan Bandung yang nyaman tidak overload oleh “tamu” dari kota kota sekitar. Melihat jalanan tidak terlalu padat kami mencoba ke arah Dago Pakar sesudah menjempu Dio. Menelusuri jalanan sempit sampai Ciburial lalu balik lagi dan mencari Congo Cafe yang direkomendasi Sjeni.

Beralamat di Jl. Rancakendal Luhur 8, tempat ini tidak terlalu mudah dicari, sempat bertanya beberapa kali akhirnya tiba juga pada saat menjelang senja sehingga suasana sudah mulai redup. Tempatnya…hmmnn menarik, suasananya enak dan makanannya tidak terlalu mahal but taste quite good. Kami bertiga memesan Corn Cream Soup, Mushroom Cream Soup ( 12rb ) dan Singkong Goreng ( 12rb di menunya pakai nama cantik banget tapi aku lupa… ) sebagai appetizer. Untuk main course 2 Tenderloin Steak ( 45rb ) dan Lingua Sirloin Steak. Drinks, Brazillian Iced Coffee (18rb ), Tea dan mineral water.

Corn Cream Soup

Corn Cream Soup

Singkong Goreng

Singkong Goreng

Brazillian Iced Coffee

Brazillian Iced Coffee

Makanan yang lumayan enak dengan harga terjangkau merupakan bonus karena  sajian  sebenarnya adalah suasana dan tempat yang nyaman, lingkungan yang indah ditambah dengan koleksi segala sesuatu yang berhubungan dengan kayu Jati yang ditata menarik.

Restonya sendiri tidak terlalu luas berdiri diatas lahan yang luas sehingga memiliki kemewahan berupa tempat parkir yang memadai. Ketersediaan tempat parkir biasanya kurang memadai di lokasi lain didaerah Dago Pakar ini tapi lain halnya di Congo Cafe, kendaraan dapat diparkir di halaman yang dapat menampung jumlah yang layak dengan kapasitas resto.

Susunan meja makan dengan kitchen di ujung

Susunan meja dengan kitchen di latar belakang dan Plaza di sebelah kiri

Gallery di seberang lembah

Gallery di seberang lembah

Pelataran parkir seakan menjadi pembatas imajiner antara Resto dan Galeri. Menuju kesebelah kiri akan mebawa kita ke bangunan resto yang berupa bangunan terbuka berbentuk L dengan atap Rumbia yang ditopang tiang dari kayu Jati mentah tanpa finishing sehingga terlihat sangat natural. Bangunan L ini mengelilingi plaza dengan akar jati yang dilihat dari ukurannya pastilah berusia tua. Restonya berlantai dua ke bawah dengan sistem open kitchen. Ruangan resto terbagi dua tanpa sekat, susunan meja dan kursi makan dari kayu di sekitar kitchen serta kelompok sofa dan meja rendah diujung menghadap pemandangan ke arah galeri dan lembah.

Dekor resto tidak ada yang lari dari konsep “kayu Jati” dengan aksen sebuah papan  tebal yang dipotong dari gelondongan kayu Jati dengan mengikutsertakan bagian pangkal yang berongga karena dimakan usia  sehingga sangat unik. Papan ini difinishing halus.

Aksen, papan tebal kayu Jati

Aksen, papan tebal kayu Jati

Detail

Detail

Disebelah kanan  pelataran parkir terdapat area terbuka untuk menempatkan benda-benda koleksi yang berhubungan dengan “Kayu”. Dari mesin pemotong gelondongan kayu hingga benda koleksi yang terbuat dari kayu. Sebagian akar tua, tempat duduk, lemari dari kayu bulat hingga meja raksasa, semua dari bahan Jati. Lemari yang menjadi tempat bersandar sepeda “Onthel” dibuat dari kayu gelondong tanpa melalui proses pemotongan menjadi papan. Jadi bentuknya tetap seperti gelondongan kayu dan…disertai sistem engsel dan kunci dari kayu….amazing!

Meja raksasa terbuat dari papan setebal kurang lebih 10 Centimeter tanpa sambungan, dengan lebar bervariasi antara 1 hingga 1,5 Meter dan panjang kurang lebih 5 Meter. Aku tidak bisa membayangkan harganya!!!

Mesin tua pengolah gelondongan kayu

Mesin tua pengolah gelondongan kayu

Mesin tua dari sisi lain

Mesin tua dari sisi lain

Sebagian akar Jati

Sebagian akar Jati

Meja raksasa

Meja raksasa

Tempat duduk

Tempat duduk

Lemari dari Jati gelondongan

Lemari dari Jati gelondongan

Detail kunci dan engsel

Detail kunci dan engsel

Sayangnya hingga kembali ke Jakarta aku baru tahu kalau jalan kecil dibalik meja raksasa itu dapat menuju galeri yang dapat dikunjungi. Isinya benda-benda koleksi dari kayu. Kecewaku bertambah begitu melihat hasil foto dari kamera HP yang tidak begitu bagus.

Berarti…….aku harus kembali kesana!

One thought on “Congo Cafe

  1. Halo Congo, saya senang dengan view suasana Congo=)

    Dalam beberapa minggu yg akan daatang saya berencana kesana bersama teman2 saya,, mohon agar saya dapat dibantu mendapatkan pricelist menu congo supaya saya tau kisaran makan disana . mohon dikirim ke email saya
    trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s