Tilang

Pertama kali terjadi dalam hidup ku, ditilang.

Bukan sok tapi memang dalam banyak hal aku tidak biasa “melanggar aturan” karena…umm.. sebenarnya ini hasil analisa sendiri, kemungkinan karena tak terbiasa juga bisa dibilang “kaku”. Biasanya kalau habis melanggar rambu, sering timbul rasa malu, “Buset koq gue ga tau aturan banget ya?”

Tapi ada satu persimpangan yang benar-benar ‘pain in the a.s’. Persimpangan itu persimpangan yang selalu ramai dengan arus lalin yang tidak seimbang. Dari arah Pengumben, Permata Hijau dan Kebon Jeruk, antrian selalu panjang dan padat tapi lain lagi halnya dari arah Jalan Kebayoran Lama yang tidak terlalu panjang kalau dibandingkan ketiga arah tsb, walau sebenarnya cukup ramai.

Nah masalahnya adalah pengaturan traffic light nya sangat tidak berimbang.

Kalau yang dari ketiga arah tadi hijaunya lamaaa banget tapi dari arah Kebayoran Lama hijaunya  hanya sebentar  serta diperparah oleh arus motor yang mengarah lurus tetapi mengambil lajur paling kanan sehingga antrian yang hendak ke kanan terhambat menunggu berlalunya arus motor yang kurang ajar itu.

Keadaan ini diperparah oleh kendaraan dari ketiga arah tadi yang menerobos lampu yang sudah berubah merah  padahal arah tujuan mereka tersendat. Hal ini membuat mereka terhenti ditengah-tengah persimpangan sehingga menghambat arus dari arah lain yang mendapat giliran TL hijau.

Alhasil pada saat TL dari arah Kebayoran Lama hijau, hanya dapat meloloskan beberapa kendaraan saja. Bayangkan BETE nya!

Pada tanggal 24 Maret 2009 itu aku dalam keadaan ‘terlambat berangkat’, mood sedang dalam keadaan seballll, pikiran lagi galau…nah cukup sudah amunisi untuk mencetuskan pemberontakan pada saat menunggu lama di TL tapi belum juga mendapat giliran melaju setelah 2 kali lampu berganti hijau. Begitu lampu berubah hijau untuk ketiga kalinya, kembali antrian terhambat oleh antrian dari arah Pengumben yang tidak bergerak ditengah-tengah persimpangan.

Dengan sigap aku memindahkan mobil kesebelah lajur antrian lalu melaju dengan tujuan melewati antrian yang terhambat, karena arah belok kanan ke jalan Panjang arah Kebon Jeruk lancar tanpa hambatan.

Eeeeeiiits pada saat melalui TL berubah merah tapi kutancap laju terus bah! Demikianlah azab yang terjadi, aku dihentikan Polisi.

“Selamat Pagi Bu, Ibu terburu-buru sehingga melanggar lampu merah?”

“Iya Pak” jawabku sambil memberikan SIM dan STNK.

“Saya akan ke warung itu untuk menulis surat tilang, ibu tunggu di sini”

“Baik Pak”

Lalu lamaaaaaa sekali aku menunggu sampai akhirnya Pak Polisi itu kembali untuk memberikan surat tilang pertama dalam hidup ku…*Bangga mode [on]

Aku sadar sebenarnya mungkin ada hal lain yang dapat terjadi bila aku mengganti jawaban “Baik Pak” dengan kalimat yang berbeda. Atau bila aku menyusul ke warung mungkin saja aku belum pernah menerima surat tilang. Tapi entah mengapa rasanya aku malas untuk melakukan hal itu, selain lagi bad mood juga perasaan “Ya memang aku sudah melanggar TL jadi terima saja konsekuensinya”.

Hari ini pelanggaranku disidang selang 15 menit setelah sidang dimulai. Dengan sedikit petuah seperti “Jangan diulangi lagi” ( siapa yang mau menerima azab yang sama hingga 2 kali, selain keledai coba? ) sidang selesai lalu tinggal bayar denda 80 ribuan.

Haa! ternyata sederhana dan tidak bertele-tele.

Apakah ini terjadi hanya pada ‘orang baik’ seperti aku atau demikian sebenarnya potret sehari-hari sidang tipiring?

Biarpun ga ribet tapi rasanya cukup sekali ini saja…. ini aib dan azab tau!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s