Cerita perjalanan yang tertinggal : Makassar

Keputusan mendadak untuk menyertai Dio dan Ditto ke Makassar sebenarnya buah kesepakatan dengan Yu. Aku menemani Na dan Deta kompetisi ke Hong Kong dan dia mendapat jatah ke Makassar. Kesibukan membatalkan niatnya berangkat sehingga aku yang berangkat lagi, on a very last minute decision.

Persiapan kilat dari Jakarta hanya mencakup hotel dan print out tempat-tempat yang dapat dikunjungi di seputar kota Makassar. Berangkat 9 Agustus kembali 13 Agustus 2008 dengan Lion Air. Hotel pun sulit didapat karena selain peserta OSN tingkat SD, SMP dan SMA seluruh Indonesia juga bersamaan dengan berlangsungnya Kongres Dokter ( Mata kalau tidak salah ingat…). Hari kedua harus pindah Hotel ke daerah Panakukang dan balik lagi ke hotel semula di hari ke tiga.

Sultan Hasanuddin International Airport, bandara besar dan baru dengan gaya modern ini baru mulai beroperasi awal Agustus, masih terasa agak sepi. Toko-toko yang mengisi Departure dan Arrival area masih sedikit dengan pilihan yang terbatas.

Bandara Sultan Hassanudin

Bandara Sultan Hassanudin

Bandara Ruang Tunggu

Ruang Tunggu Bandara

Transportasi memadai di kota Makassar membuat mobilitas terjamin dari Taxi hingga Becak. Entah mengapa, becak tetap lebih nyaman untuk ku karena kebanyakan taxi memakai coating film yang gelap membuat kesulitan untuk melihat daerah yang dilalui. Seringkali penarik becak berbaik hati menjadi guide yang menceritakan tempat-tempat yang dilalui, gedung yang lagi dibangun, pemilik gedung megah yang dilalui dan banyak lagi cerita mereka.

Hari pertama dan kedua masih dimanfaatkan untuk berkeliling seputar kota, dari Mall Ratu Indah, Mall Panakukang hingga daerah turist di Losari, belanja Kain Songket dan beragam souvenir di Jalan Somba Opu.

Hari ketiga merambah ke Benteng Fort Rotterdam dan Bantimurung dengan menyewa mobil berikut supirnya. Pak Ilyas, supir kami sempat bercerita tentang perjalanan ke Tana Toraja yang dapat ditempuh dalam 7 jam…..yah…coba kemarin ceritanya, masih sempat ke sana, secara besok sudah harus kembali ke Jakarta.

Fort Rotterdam

Fort Rotterdam

Fort Rotterdam

Gereja Fort Rotterdam

Fort Rotterdam, benteng yang dibangun oleh Raja Gowa IX, Daeng Matenre Karang Manguntungi Tumaparisi Kallona dan putranya Raja Gowa X, Manriwa Gau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng pada tahun 1545 M dengan arsitektur Banteng Gaya Portugis.

Benteng ini berfungsi sebagai salah satu dari Benteng Pengawal yang melindungi Benteng Induk Somba Opu. Sayangnya menurut salah seorang pemilik art shop di jalan Pattimura, Benteng Somba Opu belum dipugar dan masih merupakan serakan dan sebagian masih tertimbun tanah.

Oleh masyarakat Gowa, benteng ini dinamai Benteng Pannyuwa dari kata Penyu, disebabkan bentuknya seperti penyu. Setelah direbut Belanda melalui perjanjian Bongaya 18 November 1667 Benteng itu dinamai Fort Rotterdam sebagai penghargaan bagi Cornelis Speelman, Laksamana Belanda yang kelahiran Rotterdam.

Benteng ini memiliki lima sudut, Kepala (Bastion Bone), Kaki Kiri Depan (Bastion Bacan), Kaki Kanan Depan (Bastion Buton), Kaki Kiri Belakang (Bastion Ambon), Kaki Kanan Belakang (Bastion Mandar).

Salah satu ruangan di dalam benteng ini merupakan tempat tahanan Pangeran Diponegoro hingga wafat dan dimakamkan di kota Makssar.

Denah Fort Rotterdam 1767

Denah Fort Rotterdam 1767

Bantimurung merupakan Taman Nasional yang terletak di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Tempat ini dikenal dengan koleksi Kupu-Kupu yang memang banyak sekali ditemui di Taman Nasional ini. Selain itu terdapat air terjun dan goa yang terbentuk di dalam bukit limestone.

Sayang sekali goa yang kami masuki tidak diberi penerangan sehingga harus menyewa senter yang kurang dapat memberikan penerangan yang cukup. Selain itu tempat ini minim informasi serta Museum Kupu-Kupu yang tidak dapat dimasuki karena dikunci padahal saat itu masih pukul 2 siang.

Bantimurung

Bantimurung

Bantimurung

Bantimurung

Bantimurung

Bantimurung Waterfall

Bantimurung

Bantimurung

Sulawesi Selatan memiliki budaya yang sangat beragam. Oleh staf di kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan aku diajak ke Taman Budayanya dan ditunjukan Gendang Makassar yang dapat ditabuh memakai telapak tangan atau stik dari kayu serta Gendang Tator dari Tanah Toraja. Uniknya, masyarakat Toraja memiliki tarian dimana penari wanitanya naik dan menari diatas gendang yang diletakkan diatas dudukan. Gendang Tator yang dimiliki Dinas ini berdiameter 1 meter lebih.

Kalau masyarakat dua kabupaten yang berada dalam satu provinsi berjarak 42 Km dalam 7 jam perjalanan saja memiliki Tarian, Alat Musik, Pakaian Adat dan Rumah Adat yang berbeda, belum lagi ragam istiadatnya, bayangkan kekayaan budaya Negara kita.

Yang lebih unik lagi, disini kerap menyajikan irisan jeruk nipis pada masakannya, bukan hanya pada kuliner asli saja bahkan pada hidangan Chinese food nya. Harus dicoba, Konro Bakar yang sedap sekali dan seafood Lae Lae di Jalan Datu Museng..cumi bakarnya…hmmm..lalu Pisang Ijo.

Dari Restoran Surya di Jalan Nusakambangan ada oleh-oleh yang menarik, Masakan Kepiting! Dengan325 ribu rupiah aku sudah bisa mendapat dua porsi kepiting, masak lada hitam dan saos tiram, yang dipak rapi dalam termos lalu diberi kardus. Paket ini bisa di baggage check in, praktis sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s