Negara Lalai

Rahm Emanuel, “Penjaga Pintu” Ruang Oval

Itu judul Sosok Kompas hari ini Jumat 6 Febuari 2009. Tulisan ini secara garis besar membahas tentang sosok dan perjalanan karir Rahm Emanuel yang sekarang menjabat sebagai kastaf White House. Pada kolom Biodata ditulis,

Karier :

– Penasihat Presiden Bill Clinton, 1993-1998

– Manajer Investasi di Wasserstein Perella, 1998- 2002

– Anggota DPR ( House of Representatives ), 2002-2008

– Kepala Staf Gedung Putih, 2009-sekarang

Membaca tulisan ini ada hal yang yang sangat menarik yaitu latar belakang pendidikan sosok ini. Ini kutipannya

Banting setir Andai tidak menjadi politisi, Emanuel barangkali akan menjadi penari profesional. Semasa bocah, Emanuel belajar balet di Sekolah Balet Evanston. Ibunya Martha Smulevitz, yang menyarankan dia belajar balet. Ia memenangi beasiswa untuk belajar di Joffrey Ballet, tetapi memilih Sarah Lawrence College, sekolah seni liberal dengan program studi tari yang bagus, di New York.

Saat menuntut ilmu di Sarah Lawrence College itulah ia bergabung dengan tim kampanye Kongres bagi David Robertson di Chicago. Dari sini dia “banting setir” menjadi politisi. Setamat dari Sarah Lawrence College, ia mempelajari komunikasi di Northwestern University dan memperoleh gelar master.

Berawal dengan sekolah yang menitikberatkan kurikulum tari berakhir dengan gelar master dalam bidang politik, bukan merupakan hal yang biasa. Mengubah cita-cita, mengubah garis karier, mengubah paradigma, mengubah pandangan atau visi adalah hal yang wajar tetapi yang luar biasa adalah bagaimana sarana pendidikan yang tersedia dapat mewadahi keinginan tersebut.

Pembahasan saya bergeser pada sistem pendidikan yang ada di sini. Dapatkah kita membayangkan adanya sekolah tingkat dasar yang secara spesifik menekankan kurikulum pada kebutuhan dan bakat anak? Mari kita perjelas, adakah sekolah khusus yang memberi porsi yang lebih besar pada pengembangan talenta anak berbakat, misalnya tari, olahraga, bahasa, vokal dan lainnya tanpa meninggalkan kebutuhan anak mendapatkan pendidikan kognitif?

Pernah ada sekolah bulutangkis bagi atlet muda yang dibina untuk tim nasional, saya tidak begitu paham apakah mereka masih dibina dengan cara demikian sekarang ini. Juga ada atlit Judo yang dikumpulkan di Padepokan Judo di Ciloto pada tahun 80 an yang memiliki porsi program latihan yang besar walau mereka disekolahkan disekolahan setempat. Lalu kalau kita mendengarkan bagaimana keluarga Yusharyahya atau keluarga Nasution menjalani latihan renang sehari-hari dengan diseling kegiatan belajar di siang hari. Semuanya menghasilkan prestasi bagus berkat hasil latihan itu walaupun mereka masih bersekolah dengan kurikuler sebagaimana sekolahan umum di negeri ini.

Semua atlet binaan diatas, masih menuntut ilmu di sekolah umum. Dengan jumlah atlet yang luar biasa dari bangsa yang dua ratus milyar ini disertai prestasi luar biasa pada waktu itu, mengherankan kalau pemerintah kita tidak terketuk hatinya untuk membangun sekolah khusus bagi kemajuan bangsa ini. Tidak heran kalau semua prestasi yang pernah dicapai kemudian surut sampai ketitik sekarang ini. Di sini kita hanya membahas pendidikan atlit dari cabang olah raga yang sempat mengharumkan dan membuat bangsa kita dikenal dan dihormati dunia, tetapi tidak mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya.

Bagaimana dengan anak-anak yang ingin mendalami budaya dan kesenian karena kecintaan mereka terhadap budaya sendiri? Rasanya pengalaman Rahm Emanuel masih merupakan “mimpi” yang hampir mustahil terwujud.

Ini adalah kesalahan negara terhadap martabat bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s