Agar Tidak Lalai

Bila kita mengkritik, harus melihat dari dua sisi pandang yang berbeda, cover both sides, katanya. Saya mencoba memandang sengkarut dunia pendidikan kita dari banyak sisi, salah satunya sisi “rakyat” yang tidak berprestasi.

Berdasarkan pengamatan, banyak dari anak-anak kita tidak menyadari potensi dan talenta mereka hingga diberi kesempatan untuk mencoba menjelajahi potensi mereka. Contoh akan mempermudah memahami hal ini, misalnya seorang anak tidak akan pernah menyadari bakat melukisnya hingga ia diberi kesempatan untuk menggunakan alat gambar atau cat lukis. Seseorang tidak akan mencoba menyusun komposisi lagu sampai ia diberi nada-nada. Seseorang tidak akan bermimpi menjadi ahli fisika sampai ia diberi sarana dan tantangan untuk memahami dunia fisika.

Berdasarkan pengalaman pula, saya berpendapat kalau masa kanak-kanak adalah masa penuh keingintahuan, mau mencoba, explorer dan penuh cita-cita yang tanpa batasan. Dengan kata lain, pada saat memiliki cita-cita, seorang anak tidak akan membatasi diri pada kemampuan, sumber daya dan sarana. Ia akan memimpikan cita-cita itu tanpa peduli apakah sarana , sumber daya dan kemampuannya memungkinkan ia meraih impian itu. Artinya mimpi mereka tak berbatas.

Pada saat beranjak dewasa ia mulai mempertimbangkan kemungkinan meraih impian itu dan akan meninggalkannya bilamana dirasa tantangannya terlalu besar atau mustahil untuk diraih. Artinya impian mereka berbatas dimana kadangkala kemustahilan itu lebih karena pertimbangan pragmatis.

Dari sini kita dapat mengatakan kalau masa kanak-kanak adalah saat yang tepat untuk mengenalkan segala hal yang baik bagi perkembangan kemampuan mereka. Mereka akan menyerap lebih cepat, tertantang untuk mencoba dan akhirnya….voila! mereka mengenali dan dapat menggali bakat mereka.

Memberikan pengalaman dan mengenalkan mereka pada banyak aspek dimasa kini  seringkali terkendala pada jadwal dan beban sekolah yang jauh berbeda dengan tiga puluh tahun yang lalu.

Pada masa SMP dan SMA saya memiliki segudang aktifitas diluar sekolah,  dalam seminggu ada 8 kegiatan, tanpa harus tertinggal pelajaran sekolah. Tapi mungkin hal ini sulit dijalani pada masa kini yang beban kurikulumnya sudah sangat padat. Tapi pada masa saya, belum pernah ada siswa SMA yang meraih absolut winner dari ajang Olimpiade Sains Dunia seperti yang diraih generasi sekarang ini. Pada masa saya, prestasi atlit pada cabang-cabang olah raga tertentu sudah mendunia dan sulit dicapai pada masa sekarang.

Jadi agar negara tidak dianggap lalai merespons potensi anak bangsa, alangkah baiknya kalau disediakan sekolah-sekolah yang berbasiskan kebutuhan anak didik sesuai talenta mereka. Tidak dengan pola seragam seperti sekarang.

Bagi anak-anak yang tertarik pada dunia seni, beri mereka kesempatan untuk bersekolah di sekolah yang memberi porsi besar untuk mengembangkan ketertarikan mereka demikian pula pada bidang olah raga dan lainnya. Beri mereka ruang untuk “banting Setir” seperti Rahm Emanuel ( lihat “Negara Lalai”) bila mereka merasa tidak berada pada tempat yang tepat.

Bagi anak-anak yang tertarik pada bidang sains atau sosial, beri mereka sarana untuk menemukan kegeniusan mereka di bidang yang dicintainya saja. Tidak dalam sistim borongan seperti kurikulum kita sekarang dimana semua harus dikuasai melalui takaran nilai. Anak setingkat SD atau SMP yang berbakat bahasa, harus memiliki nilai baik diatas SKKM untuk Matematika, IPA dan Olah Raga sehingga alih-alih mengembangkan bakat bahasanya, malah energi mereka terkuras untuk mengejar nilai Matematika, IPA dan Olah Raga yang tidak begitu dikuasainya.

Sehingga duaratusan milyar lebih  populasi kita tidak terkungkung oleh sistem massal pendidikan melainkan dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada di masyarakat, untuk mengharumkan dan memajukan negara ini.

Ini sedikit hal yang seharusnya dilakukan negara yang tidak lalai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s