Ups! It’s 16 degree in Hanoi

Girls in Aodai on board.

Hati ini sempat merengut melihat bagasi orang-orang Vietnam pada saat check in, mereka travel dengan banyak bagasi dari koper, kardus sampai tas model Mamasang. Masuk ke ruang tunggu pikiran tambah gundah melihat suasana dan keberadaan calon penumpang sepesawat, aduh mereka semua pada mau mudik Lunar New Year. Suasana seperti mau pulang kampung itu gimana sih? ya gitu deh susah buat dijelaskan. Satu jam sebelum take off, penumpang mulai boarding, setelah Business Class lalu Economy Class dimulai dari barisan belakang kemudian bagian tengah. Pada saat masuk kepesawat aku merasa sepertinya aliran masuk penumpang masih akan macet karena rombongan baris belakang belum selesai menyusun cabin baggage mereka…tetapi begitu masuk ke pesawat melihat aisle……sudah kosong dan penumpangnya sudah duduk rapi….*malu mode [on]. Hebat juga mereka.

Pesawatnya baru, bagus, pramugarinya tidak terlalu ramah tapi kerjanya sangat efisien dan cepat dan full service dengan hot meals. Catatan untuk pramugarinya, mereka semua langsing ( bukan kurus lho ) sehingga mereka tampak chic dengan Aodai warna merah dengan belahan sampai kebagian pinggang, sehingga kalau mereka meraih keatas, ada sedikit bagian samping pinggang yang terlihat.

Vietnam Airlines VN 744

Vietnam Airlines VN 744

Tiba on time dan aku tidak berhak komplain tentang flight ini, semuanya smooth termasuk penumpang yang disiplin tetap duduk pada saat pesawat taxying untill full stop. Pada saat antri di immigration counter, kami baru sadar kalau orang disekeliling kami semua sudah berpakaian tebal, boots dan sekarang kami kedinginan…….. “Rasanya tadi di pesawat disebut 16 derajat, tapi bahasanya ga gitu jelas jadi ga gitu diperhatikan” kata mama… Gubrag…kami semua unprepared untuk informasi ini, aku malah siap untuk travel dalam cuaca panas dan humid. Aku lupa kalau Hanoi itu posisinya sudah dekat China, di utara, bukan seperti cuaca di Bangkok atau Singapore. Mungkin orang disekeliling kami merasa kami keturunan Eskimo yang jagoan menantang udara 16 derajat dengan blus katun tipis. Kucit lebih hebat lagi, blusnya sleeveless.

Immigration officernya pake nanya visa segala tapi ku jawab kalau aku dari Indonesia jadi ga perlu visa mas! Lalu landing card ku di cap dan dibalikin utuh…????… Sempat berasa kuatir dikerjain, sampai aku perhatikan kalau semua penumpang lain memang tidak ada yang dirobek bagian perforasi landing cardnya.

Selepas imigrasi kami cukup lama menunggu bagasi dalam keadaan kedinginan. Hanoi Noi Bai Airport bila dibandingkan dengan Changi atau Lap Che Kok, terlihat sederhana dan kecil. Keluar dari custom, kami menemui Transviet Tour Guide yang memegang papan bertuliskan nama kami, Hieu, namanya. Atas saran Hieu kami menukar SGD dengan Vietnam Dong di Airport money changer selama menunggu kendaraan menjemput ke depan pintu masuk.

Penukaran Vietnam Dong pertama

Penukaran Vietnam Dong pertama

Mobil yang akan menyertai kami selama beberapa hari kedepan, berupa van keluaran Mercedez dengan kapasitas 11 penumpang. Tujuan pertama malam ini ke restoran yang terletak di bagian Old City, untuk makan malam.

Disana sudah ada group tourist bule yang sepertinya hampir selesai makan malam. Dinner table hanya disiapkan untuk kami berempat, ternyata Hieu mendapat meja terpisah.

Set Menu

Set Menu

Kembali ke van, Hieu mengoreksi pengucapan “Pho” kami yang semula tidak ia mengerti. Ternyata cara ngucapin “Pho” itu ribet banget, lebih ribet dari masak noodle soup nya kali. “Vvvvvvhheeekh” gitu kira-kira bunyinya, sampai mulut sudah banjir masih belum bener juga…aargh whatever lah!!

Menurut Hieu, Hanoi terbagi atas 3 bagian, Old City, French City, New City. Old City adalah kota lama dengan banyak rumah toko yang rapat satu sama lainnya dan disini pula keberadaan China Town nya. Sedang French City banyak didominasi bangunan peninggalan Perancis, kurang lebih seperti Menteng di Jakarta, banyak konsulat dan hunian korps diplomatik. Sedang New City bagian kota yang baru dikembangkan.

Malam itu kami diantar ke Kim Tuc Hotel didaerah Old City. Hotelnya ga besar tapi free internet lho…..hwa..ha..ha… Laptop yang dibawa bisa digunakan, WiFi di kamar.

Kunci kamar

Kunci kamar

Ada kedogolan yang terjadi, kami tidak dapat menggunakan kunci kamar yang berbentuk kartu tebal, tidak seperti card key biasanya yang tipis dan diselipkan didalam celah yang terdapat dibawah pegangan pintu. Ternyata data yang berada dicelah kecil pada kartu tebal itu akan terbaca oleh sensor kecil disamping pintu…huhu….kurang gaul deh.

Pagi-pagi ditengah dingin yang luar biasa ( dan belum punya jaket…jadi dengan penuh penderitaan..hehe..) setelah b’fast, aku dan Kucit keluar hunting foto disekeliling sampai masuk ke gang di pelosok-pelosok. Ini beberapa hasilnya….

Pedagang keliling

Pedagang keliling

07.30 B'fast on the street.

07.30 B'fast on the street.

Salah satu ciri khas kehidupan masyarakat di sana adalah makan nongkrong diatas trotoar dipinggir jalan yang sepi maupun ramai lalu lintasnya. Sarapan pagi, makan siang, sore terlebih malam hingga larut selalu ramai dengan lapak yang dipenuhi pengunjung, termasuk pegawai kantoran dengan pakaian rapi, makan siang ditengah hari. Mungkin ini adaptasi dari Alfresco Dining.

Belum sempat mendapat penjelasan mengapa mereka memakai bangku kecil mirip dingklik dengan sandaran kecil, sehingga mereka harus duduk nongkrong, mengapa bukan kursi bakso plastik yang disini umum dipakai di kaki lima? Mungkin harus dicari jawabannya, next trip!. Yang dihidangkan sangat beragam dari seafood ( kerang dll), Pho sampai steamboat.

Jacket please...It's freezing.

Jacket please...It's freezing.

“Hieu, would you take us to buy jackets please?” Itu kalimat pertama terlontar begitu ia muncul di lobby hotel. Kemudian kami dibawa ke semacam outlet pakaian berlantai 3, selang 30 menit kemudian kami sudah nyaman dengan jaket tebal….it cost me VD 186,000 ga mahal tapi ga kepake di Indo.

Then, we can start the journey now. Menjelang pukul setengah sepuluh van yang kami tumpangi sudah mulai bergerak dalam keramaian lalu lintas. Populasi di Hanoi mencapai 6 juta jiwa dengan 4 juta jumlah kendaraan motor beroda dua, belum termasuk mobil, bis dan sepeda yang masih banyak digunakan. Hal ini membuat crossing the road in Hanoi is a real challenge, harusnya dibuat menjadi salah satu tantangan Fear Factor.

Kunjungan pertama ke Ho Chi Minh Mausoleum. Kamera harus ditinggal di mobil atau dititipkan pada Hieu berikut tas tangan dan handphone. Dilanjutkan antri jalan dua-dua ke pos pemeriksaan sampai kedalam mausoleum yang dijaga prajurit. Tidak diperbolehkan berisik dan pada saat aku berbisik ke Kucit, seorang penjaga meletakkan telunjuknya didepan mulut, menyuruhku diam. Masuk kedalam ruang persemayaman juga baris berdua dengan aliran pengunjung yang berjalan pelan tetapi tidak boleh berhenti mengelilingi kotak kaca berisi jasad Ho Chi Minh.

Begitu keluar dari gedung, Hieu telah menunggu dengan segala titipan kami, ternyata mereka ingin memastikan tidak ada yang memotret Ho Chi Minh.

Ho Chi Minh Mausoleum

Ho Chi Minh Mausoleum

Presidential Palace (formerly Indochina's General Governor Palace) Tetapi Presiden Ho tidak pernah tinggal di sini karena ia seorang yang sederhana

Presidential Palace (formerly Indochina's General Governor Palace) Tetapi Presiden Ho tidak pernah tinggal di sini karena ia seorang yang sederhana

The house where Ho Chi Minh lived and worked from 1954 to 1958

The house where Ho Chi Minh lived and worked from 1954 to 1958

Ho Chi Minh yang terbiasa hidup sederhana, tidak tinggal di Istana melainkan di sebuah rumah didekat Istana. Rumah beserta isinya ini masih terawat termasuk mobil Rusia, pesawat telepon, buku  serta perlengkapan bekerja, tempat tidur dan perlengkapan makan.

The house on stilts where Ho Chi Monh lived and worked from May 1958 to August 1969.

The house on stilts where Ho Chi Monh lived and worked from May 1958 to August 1969.

Mulai tahun 1958 ia membangun sebuah rumah panggung untuk tempat tinggal dan sekaligus tempatnya bekerja, juga masih dalam komplek yang sama. Menurut Hieu, rumah panggung ini merupakan rumah tradisionil suku terpencil tempat ia menumpang selama masa perjuangan sekembalinya dari sekolah di Perancis.

Kolam didepan rumah panggung

Kolam didepan rumah panggung

Kebun Jeruk Bali

Uncle Ho's Pomelo.

Ditunjukan bunker persembunyian yang berada disamping rumah panggung, sehingga pada saat serangan udara Amerika datang, ia dapat mencapai bunker dalam waktu singkat. Mulut bunker berhubungan dengan bangunan kecil.

Menurut Hieu, hanya mulut bunker yang berada dibukit kecil dipermukaan tanah selebihnya bunker berada didalam permukaan tanah sehingga aman dari serangan yang dilakukan pesawat Amerika.

Kebun Pomelo ini terletak dalam komplek yang sama, penuh dengan pohon Jeruk Bali yang tidak pernah dipetik. Buahnya dibiarkan matang hingga berjatuhan. Pada salah satu buahnya bahkan dijadikan sarang oleh burung yang banyak berdiam disana.

Simbolis bersatunya Vietnam Utara dan Selatan

Simbolis bersatunya Vietnam Utara dan Selatan

Aku menarik kesimpulan kalau memang sosok ini dicintai dan dikagumi rakyatnya hingga sekarang oleh karena kepemimpinan dan hidupnya yang sederhana. Aku menyimpulkan demikian, dari cara Hieu bercerita tentang Ho Chi Minh yang memutuskan tidak menikah sampai akhir hayatnya karena memperjuangkan kemerdekaan dan penyatuan kembali kedua Vietnam serta bagaimana hidupnya yang sederhana.

Tetapi kekaguman terhadap Ho Chi Minh seperti itu tidak terlihat di Selatan, malah masyarakan di Selatan lebih banyak menyebut kota mereka sebagai “Saigon” lain halnya masyarakat di Utara tidak pernah menyebut “Saigon” selalu “Ho Chi Minh City”

Mereka banyak menggunakan simbolis, salah satunya terdapat pada dua buah pohon berlainan yang disatukan melalui rekayasa, sebagai lambang penyatuan kembali Vietnam Utara dan Vietnam Selatan setelah berakhirnya perang Vietnam.

One Pillar Pagoda

One Pillar Pagoda

Berikutnya “One Pillar Pagoda”. Pagoda ini didirikan oleh salah seorang raja yang lama tidak memiliki keturunan. Sampai akhirnya ia mendapatkan  keturunan dan  sebagai tanda terma kasihnya ia mendirikan pagoda ini.

Petunjuk Parkir Tunggangan

Petunjuk Parkir Tunggangan

Dilanjutkan perjalanan mengendarai van menuju sebuah kuil Confusius yang disebut “Temple of Literature”. Diluar gerbang tersedia tempat meninggalkan tunggangan yang ditandai dengan patok bertuliskan “Sia Ma” yang meminta pengunjung untuk turun dari tunggangan. Untuk masuk kedalam halaman terdapat dua pintu dimana pintu utama hanya diperuntukan bagi para anggota kerajaan dan para bangsawan sedang rakyat harus melalui pintu yang lebih kecil disamping pintu utama.

Gerbang Utama

Gerbang Utama

Dinasti Kerajaan

Dinasti Kerajaan

Salah satu prasasti wisudawan

Salah satu prasasti wisudawan

Setelah melalui halaman yang didominasi kolam teratai, terdapat pintu yang membawa kita pada tempat prasasti yang memuat nama-nama para pelajar yang telah menyelesaikan pemahaman aksara cina diwisuda oleh raja pada saat itu. Prasasti ini bertumpu pada kura-kura yang merupakan lambang pengetahuan dan panjang usia dalam masyarakat Vietnam. Pada beberapa bagian terdapat nama-nama wisudawan yang kemudian memberontak atau tidak disukai oleh raja, dihapus dengan guratan.

Bangau bertumpu pada Kura-kura

Bangau bertumpu pada Kura-kura

Melalui pintu berikutnya terdapat pelataran yang menuju kuil penyembahan. Dipelataran ini kerap diadakan pertandingan “Human Chess”, permainan catur dengan bidak manusia, jadi kontestan hanya memerintahkan bidak berpindah keposisi yang dikehendaki.

Didalam kuil terdapat patung bangau yang berdiri diatas kura-kura yang merupakan manifestasi legenda seekor bangau yang melambangkan seorang murid yang kelelahan terbang dan hampir jatuh kemudian ditolong oleh seekor kura-kura yang melambangkan seorang guru. Dilantai 2 tersimpan perlengkapan pelajar dan guru pada masa itu.

"Fish become Dragon" ikan yang telah melalui ujian akan menjadi naga, melambangkan pelajar yang telah diuji akan menjadi orang yang terpandang.

Fish become Dragon, ikan yang telah melalui ujian akan menjadi naga, melambangkan pelajar yang telah diuji akan menjadi orang yang terpandang.

Maket "Temple of Literature"

Maket "Temple of Literature"

3926

Bedug???

Pohon Beringin yang menyatu dengan 2 pohon kecil lainnya

Pohon Beringin yang menyatu dengan 2 pohon kecil lainnya

Halte bis didepan Viet Kitchen Restaurant

Halte bis didepan Viet Kitchen Restaurant

——————————————————Suasana menjelang Lunar New Year sangat terasa dengan spanduk ucapan, pertokoan menawarkan diskon besar dalam konteks menyambut tahun baru. Mereka merayakan Tahun Baru Lunar ini dengan nama “TET”. dan mereka juga mengenal angpao yang disebut “LISI”.

Apakah oleh karena pendudukan yang lama dan tanpa permusuhan oleh kaisar-kaisar cina, yang mempengaruhi budaya ini atau memang mereka memiliki tradisi ini sebagai tradisi asli?…..Keduanya mungkin saja betul. Dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa cina, adaptasi budaya nyata pada prasasti di “Temple of Literature” dimana pelajar mempelajari bahasa dan aksara cina sebagai “pengetahuan”.

Kemudian dilanjutkan dengan makan siang di Viet Kitchen Restaurant, berupa bangunan bergaya kolonial Perancis di 24C Ba Trieu Str, Hoan Kim District. Mereka menghidangkan tradisional Vietnam cooking.

Keluar dari kota Hanoi kami melalui jalan tol yang membawa kami melalui kota-kota kecil menuju Halong Bay. Ditengah perjalanan banyak pusat kerajinan yang menyediakan toilet dan display produk mereka yang dapat dibeli untuk oleh-oleh. Beragam bentuk sulaman tangan, pakaian dan bahan sutra, laquered items, pecah belah yang berbahan batuan lokal berwarna biru, hijau, coklat dan putih hingga ukiran pualam.

Salah satu staf pemasarannya lancar berbahasa melayu karena baru 3 bulan selesai kontrak kerja di Malaysia. Staf yang lain menawarkan produk marmernya dengan menyapa “ bai marbeli siton?” Sumpeh…ngomongnya persis seperti yang ditulis tapi maksudnya “Buy marbel stone?” …kali….?!?

Halong the decending dragon. Konon Ha Long berarti the decending dragon, naga yang turun ke laut, memecah batu dan karang yang ada sehingga terserak disepanjang perairan. Kurang lebih ada 3000 an batu Karst yang tersebar dan baru sepertiganya memiliki nama.

Kami tiba di Halong saat mulai senja dan langsung menuju “Royal Hotel”

Royal Hotel

Royal Hotel

Sesaat setelah matahari terbenam

Sesaat setelah matahari terbenam

The Boats

The Boats

Kapal yang menyediakan akomodasi selama cruising malam

Kapal yang menyediakan akomodasi selama cruising malam

Kolam renang hotel, freezing

Kolam renang hotel, freezing

Musik tradisional di Resto

Musik tradisional di Resto

Dinner berupa seafood yang dimasak ala Vietnam di restoran yang menyajikan musik tradisionil yang terbuat dari bambu sehingga suara yang mengalun mirip kolintang.

Kompleks hotel dalam cahaya

Kompleks hotel dalam cahaya

Menuju cottage

Menuju cottage

Keesokanharinya setelah breakfast kami menuju dermaga dan menaiki boat untuk cruising mengelilingi teluk. Kapal yang kami tumpangi bernama “Hai Long Dream”, memiliki 2 toilet yang bersih dan dapur berada di bagian belakang kapal.

Kami memilih duduk di deck walau diterpa angin dingin, perlahan kapal bergerak keluar dari kepadatan dermaga dengan dipandu salah seorang awak yang menggerak-gerakkan tangannya memberi arahan pada juru mudi.

Mengarahkan Juru Mudi

Mengarahkan Juru Mudi

Dapur di bagian belakang

Dapur di bagian belakang

Perhentian pertama di Dong Thien Cung untuk melihat gua dengan stalaktit dan stalakmit yang berada di dalam bukit limestone. Gua ini lebih besar dibanding gua sejenis di Bantimurung, Makassar tetapi perbedaan mencolok adalah kemampuan Vietnam “menjual” obyek pariwisata ini. Akses yang baik, jaringan dengan tour operator serta penerangan yang baik ( bandingkan di Bantimurung kita harus menyewa senter yang kalau lagi apes bisa mati kehabisan batere di tengah kegelapan gua ).

Dong Thien Cung

Dong Thien Cung

Grotto

Grotto

Haluan Hai Long Dream

Haluan Hai Long Dream

"Fighting Chicken"

"Fighting Chicken"

Perhentian kedua pada saat merapat ke salah satu bagan yang banyak tersebar di tengah perairan, guna membeli seafood untuk makan siang.Tidak murah sebenarnya kalau dibandingkan kemudian dengan harga di pasar.

Menjelang akhir perjalanan….makan siang beragam seafood disajikan di kabin bawah…yummy..

Belanja di bagan

Belanja di bagan

Asongan

Asongan

Yummy......

Yummy......

Leaving the pier

Leaving the pier

Kembali ke Hanoi melalui jalan yang sama dengan saat pergi kemarin.

Tiba di kota Hanoi kami lanjutkan dengan berjalan kaki setelah turun dari van, kami menuju Sword Lake dan Ngoc Son Temple. Pada saat Hieu membeli tiket Water Puppet untuk pertunjukan jam 5, kami berbelanja kaos bersulam, selendang sutra di pertokoan disekitar theater.

Water Puppet Programme

Water Puppet Programme

Thang Long Water Puppet Theater

Thang Long Water Puppet Theater

Water puppet, created by farmer during flood season on 11th century. The theater founded in 1969. Pertunjukan ini diiringi musik tradisionil secara live. Water Puppet mirip dengan wayang golek tapi dimainkan dipermukaan air, dengan beberapa dalang yang bersembunyi dibalik tirai bambu sebagai back drop.

Selesai pertunjukan jam 6 sore merupakan rush hour, dan traffic nya….the worst I’ve ever experienced. Kalau lalu lintas di Jakarta yang kerap melaju naik keatas trotoar adalah motor, di Hanoi…mobil memotong jalan dari trotoar. Padat merayap akhirnya sampai di Restoran yang memiliki ciri khas dengan koleksi drum ( perkusi ) nya. Ditengah terdapat area untuk pemusik tradisional memainkan instrumennya. Dan yang utama, makanannya enak tenan!

Petugas pengatur lalu lintas

Petugas pengatur lalu lintas

Dan Bau, one-stringed zither. Dipetik dan tangan kanan menggerakkan flexible rod.

Dan Bau, one-stringed zither. Dipetik dan tangan kiri menggerakkan flexible rod.

Kembali ke hotel dan packing untuk leaving for Ho Chi Minh City a.k.a Saigon tomorrow.

Masyarakat Hanoi sehari-hari. Pedicure di taman

Masyarakat Hanoi disore hari. Pedicure di taman.

Masyarakat Hanoi sehari-hari. Mencari kutu

Masyarakat Hanoi disore hari. Mencari kutu.

Masyarakat Hanoi disore hari. Ngerumpi?

Masyarakat Hanoi disore hari. Ngerumpi?

Masyarakat Hanoi disore hari. Games.

Masyarakat Hanoi disore hari. Games.

Masyarakat Hanoi disore hari. Merenung

Masyarakat Hanoi disore hari. Merenung

Masyarakat Hanoi dimalam hari. Alfresco Dining.

Masyarakat Hanoi dimalam hari. Alfresco Dining.

Our Van

Our Van

Gerbang Ciputra Real Estate, Hanoi

Gerbang Ciputra Real Estate, Hanoi

Check in area Noi Bai Airport. That's all, nothing more.

Check in area Noi Bai Airport. That's all, nothing more.

Stall di departure area. Menata Bacang yang dibungkus daun pisang, 1 kg each.

Stall di departure area. Menata Bacang yang dibungkus daun pisang, 1 kg each.

Leaving on a jet plane.

Leaving on a jet plane.

One thought on “Ups! It’s 16 degree in Hanoi

  1. ASSLAMMUALAIKUM !
    TAWARAN ISTIMEWA UNTUK SEMUA ORANG DATANG KE TOUR MINAH DARI 20 JUNE HINGGA 31 JULY 2010
    wwwsinamalaysia-sina.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s