Singapore on the way to Hanoi

Hanya dalam 3 hari perencanaan akhirnya detail perjalanan rampung. Pilihan tempat yang akan dikunjungi di Hanoi dan Ho Chi Minh sudah ditentukan lalu dengan bantuan Rey, DP di CTC travel dibayar.

Itinerary nya dengan Lion Air

9 Jan 2009 JKT-SIN

17 Jan 2009 SIN-JKT

Dengan Vietnam Air

10 Jan 2009 SIN-HAN

13 Jan 2009 HAN-SGN

16 Jan 2009 SGN-SIN

3839

Tin, the girl from Karang Anyar. Gadis yang duduk disebelahku tampak sederhana dan lugu. Ternyata Tin namanya, asal Karang Anyar, Solo. Ini kali ke tiga ia merantau jauh dari keluarganya, mengejar pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Melalui penuturan sepanjang 30 menit pertama dalam penerbangan Lion Air JT 152 terungkap cerita muram yang kerap berulang dialami pekerja migran kita. Pertama kali berangkat ke Malaysia pada usia 14 tahun, mendapat perlakuan buruk dari majikannya hingga harus dirawat di rumah sakit karena dipaksa makan sabun. Dia tidak ingin bercerita banyak mengenai kontrak pertamanya itu selain mengungkapkan bahwa ia mendapat majikan yang tidak baik. Setahun kemudian ia berangkat kembali ke Singapura dengan kontrak 2 tahun tetapi orang tua yang dirawatnya meninggal karena usia sebelum kontrak berakhir. Ia merasa beruntung diajar majikannya membeli lottery sehingga pulang dengan total 12 juta rupiah dari hasil keringat dan menang lottery. Penerbangan ini merupakan kontrak kerja yang ketiga, merawat manula. Hmmnnn gadis yang tough dan berani or should I say…keadaan yang memaksa ia menjadi tegar dan berani. Entah mengapa kali ini aku melihat banyak sekali pekerja migran kita di Changi Airport, datang ke Singapura sendiri dengan surat kontrak dan kemudian dijemput calon majikan di pintu keluar.

Bergegas aku keluar dari pesawat menuju immigration counter…aha…tidak ada antrian sama sekali dan langsung ke baggage claim dan…voila..bagasi sudah terlihat di belt yang langsung ku bawa ke taxi stand. Duduk ditaksi kulirik jam…. hah…hanya 12 menit dari saat pesawat full stop sampai ke taxi stand. Two tumbs up untuk efisiensi Changi Airport, kapan International Airport kita seperti ini?

Why Conrad? Pertanyaan supir taxi ini tiba-tiba membuat aku gelagapan tidak tahu harus menjawab apa ( bahkan tidak mengerti makna pertanyaan ini atau tidak mengerti mengapa pertanyaan ini harus dilontarkan ). “Is there anything wrong with Conrad?” balas aku bertanya. “No, but people from Jakarta very seldom stay in this hotel”. Najis, jangan-jangan dia menilai penampilan ku tidak layak masuk kesana kali. Males deh…

Koufu di seberang pintu belakang hotel

Koufu di seberang pintu belakang hotel

Satu hal yang aku suka dari hotel ini adalah lokasinya. Sepelemparan batu dari pintu belakangnya sudah sampai ke Suntec City, mengingatkan aku pada Esplanade – Food Republic Connection 9 juli 2008 yang lalu. Saat itu aku dan Grace kewalahan bawa 40 box Rice with Lemongrass Grilled Chicken dari resto Vietnam di food court Food Republic, Suntec City ke Esplanade. Tapi semua kerepotan itu terbayar waktu melihat semua menikmati dinner dengan menu itu.

Jam 3 aku keluar makan La Mien di Crystal Jade dengan Kucit lalu berpisah dengan tujuan masing-masing. Jam 6 aku janji ketemu Rey di People’s Park lalu ke CTC untuk ambil tiket dan service voucher Transviet.

Dari sana aku dan Rey ke SGH, bezoek Biba yang kemarin baru operasi pengangkatan tumor dan 20% livernya yang harus dibuang. Dia terlihat masih lemah walau hasil operasi berlangsung baik, mungkin disebabkab usia yang sudah senja ( tentunya 70 tahun lebih bukan usia optimum untuk menjalani operasi seperti ini ). Tapi ingatannya masih hebat, dia masih mengingat nama ku walau terakhir kali aku bertemu dia sekitar 20 tahun yang lalu, dia pun masih ingat Rey.

The next day, pagi kami berempat ke daerah Lavender MRT st makan mie yang ngantrinya panjaaaaaaaaang banget. Rasa mienya mirip mie Asim, Palembang.

Masih ada beberapa jam sebelum check out time, so aku keluyuran ke Bugis Junction dan pulang ke hotel melalui Esplanade. Sedang berlangsung Cinderella dengan Lea Salonga di Esplanade Theater. Ada pameran foto Days with My Father by Phillip Toledano di Esplanade Tunnel. Foto yang dipamerkan merupakan foto ayahnya yang menderita Alzheimer dan merupakan “photo journal with the artist’s own text, cataloguing a poignant series of photographs of his father after his mother’s death”. Karena si Ayah menderita Alzheimer, dia akan terus menerus menanyakan keberadaan istrinya dan akan mengerti saat dijelaskan tetapi akan bertanya lagi selang beberapa saat. Foto-fotonya kebanyakan hitam putih dan bercerita banyak dalam satu frame foto saja.

Bugis Junction, menjelang CNY

Bugis Junction, menjelang CNY

Bugis Junction different angle

Bugis Junction different angle

The Esplanade

The Esplanade

Esplanade Tunnel

Esplanade Tunnel

Selepas tengah hari kami check out dari Conrad menuju Changi Airport, to catch 16.05 flight, Vietnam Airlines VN 744 to Hanoi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s