Naked Traveler

the-naked-traveler

Buku ini aku baru baca semalam setelah diberikan seorang teman pada hari senin yang lalu. Ringan, fun….


Yang menariknya, Trinity sipenulis ternyata masih menggunakan Eurail Pass…hoho.. ternyata belasan tahun setelah aku melakukan perjalanan menggunakannya, Eurail Pass masih tetap budget transportation.

Trinity tidak menjelaskan asal keberangkatannya melainkan hanya menyebut pengalaman perjalanan dari Jerman ke Ceko.


Aku ber Eurail Pass dari Frankfurt am Main, Swiss, Italy, France, Belgium lalu menyeberang via ferry ke England dan berakhir di Victoria Station. Plus tiket Cathay Pasific HKG-FRA, LON-HKG yang cuma bayar 10% ( bener bayarnya 10 persen ) jadilah aku 2 kali keliling Eropa.

Tidak senekad Trinity sih yang sampai berani hitch hike atau nginap di Hostel coed karena B & B sudah cukup murah buat aku. Atau segila dia untuk ngedugem karena aku mau menggunakan waktuku sepenuhnya untuk travel.

Tapi berkelana di Italy sudah cukup ‘ngere’. Bayangkan begitu tiba di stasiun kereta, yang pertama dilakukan ke left luggage, jadi travel bag ditinggal dan cuma bawa ransel isi keperluan sehari itu. Setelah mandi di shower stasiun, siap untuk keliling kota sampai sore menjelang malam baru kembali ke stasiun, ambil travel bag di left luggage dan jump to the train.

Sengaja ambil couchette supaya bisa tidur jadi tidak perlu keluar uang buat penginapan.

Makan? Beli roti atau pizza lalu makan sambil jalan kaki melanjutkan perjalanan. Mengejar waktu? Ga juga sih tapi ngirit karena kalau makan di meja mereka, ada extra charge.

Dari Colloseum, Fontana di Trevi dan banyak tempat di Roma sampai Murano, Pisa ( waktu itu masih bisa naik sampai ke puncak menara dan belum dipasangi kabel baja untuk mengurangi kecepatan miringnya jadi masih polos dan indah ), Venice dan Capri ( sayang waktu itu cuaca tidak memungkinkan untuk berperahu menyusuri Grotta Azzura hiks! Jadilah aku belum melihat tempat yang aku kenal namanya dari buku Sutan Takdir Alisyahbana )

Dengan Brits aku tidak memiliki pengalaman sucks seperti Trinity, mungkin dia memilih kota yang salah. Dari London, Dover, Cambridge sampai yang sekecil Crawley, semua menyenangkan.

Di Belgia yang sedikit mewah karena numpang dengan tante ku yang tinggal di desa kecil di Brakel. Pertama kali aku melihat sapi gemuk, besar, berbulu dan belang2 persis di iklan susu.

Musim gugur di pedesaan benar2 impresif karena semua merah atau kuning bukan hijau dimana mata kita terbiasa.

Satu lagi, kalau Trinity sudah memakai data dari Lonely Planet, aku masih pakai buku Let’s Go Europe yang tebalnya tiga ruas jari, jadi bisa dibayangkan bagaimana isi travel bag ku.

Tapi secara keseluruhan, aku merasa pengorbananku untuk saving income dan tidak terbujuk untuk spending ke Bruno Magli atau Ferragamo, really worth it.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s