It’s been a busy week (2)

Aku harus lebih banyak bersyukur.

Hari lepas hari aku dihindarkan Tuhan dari banyak kesulitan ataupun permasalahan bahkan pada saat aku tidak menyadarinya.


Siang itu aku berjanji untuk membantu teman menyiapkan konsumsi untuk 300 an peserta pengisi acara malam dana, belum termasuk panitianya.


Aku tiba di Sarbini satu jam lebih awal ( penyebabnya, tanggung kalau pulang dulu secara urusan ku hari ini lokasinya berdekatan ) jadi sempat melihat satu persatu peserta yang mulai berdatangan. Ada perasaan ’lain’ pada saat melihat tiap peserta datang diiringi serombongan keluarga yang ikut masuk ke tempat GR dan ikut sibuk di dalam. Suasana di dalam pun jadi hiruk pikuk oleh anak-anak dan keluarganya yang lalu lalang.

Biasanya GR acara yang aku ikuti tidak seperti ini. Bisa menjerit ’sang director’.


Saat makanan datang kami mulai mempersiapkan snack, minum dan makan malam untuk tiap kelompok. Selang beberapa waktu, pemimpin kelompok mulai mengambil makanan yang sudah siap lalu dibawa kedalam ruang konser……!?!?….

Biasanya pengaturan makan dalam konser yang aku bantu, tidak seperti ini. Bisa mendelik ’sang director’.


Satu setengah jam sebelum jadwal pintu masuk akan dibuka, jalannya GR baru berlangsung satu babak memasuki babak kedua.

Biasanya satu setengah jam sebelum jadwal membuka pintu masuk, pengisi acara sudah selesai makan, sudah cantik dalam kostum mereka dan sudah siap tampil.

Crew dan panitia sudah mulai makan malam dan akan siap dalam setengah jam.

Ruangan konser sudah steril dengan awak dokumentasi dan operator yang bersiap dalam kesenyapan. Kalau tidak, bisa senewen ’sang director’.


Satu jam lewat sudah dari jadwal seharusnya, acara masih belum dimulai.

Biasanya dalam pagelaran yang aku bantu, terlambat 15 menit adalah hal yang luar biasa serta merupakan kemurahan hati yang tidak terkira dari ’sang director’


Akhirnya pagelaran dimulai setelah melalui ketegangan luar biasa yang terjadi di lobby antara ’beberapa pihak’. Selama pagelaranpun hilir mudik manusia tak henti-hentinya.

Selama pagelaranpun handycam penonton tak henti-hentinya menyala ditingkahi lampu kilat kamera.


Sampai disini aku tidak dapat lagi berkata ’biasanya’ karena ini bukan konser yang biasanya aku bantu. Dan kata-kata yang muncul ”Adalah suatu kelegaan yang luar biasa kita tidak jadi berpartisipasi sebagai pengisi acara dalam pagelaran ini, karena sangat nyata perbedaan tata cara pelaksanaannya dengan cara dimana kita terbiasa”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s