It’s been a busy week (1)

Dimulai dari Ditto sibuk dengan scholarship application nya.

Kalau melihat keterangan dan petunjuk yang diberikan pihak SS, semuanya terlihat simple.

Yang penting ada certified English translation, A4 paper size, printed on one side only dan being endorsed by The Ministry of Foreign Affairs.

Tapi masukkan dari teman-temannya yang ikut bimbingan test membuat persiapan berkas jadi sangat rumit. Dari kertas yang harus mulus tanpa bekas staples, satu copy dijilid, yang empat masih dalam bentuk lembaran lepas dan jangan ada tekukan pada kertas, tiap berkas harus dimasukan dalam amplop terpisah sampai bisikan tentang sulitnya pengurusan di Diknas.

Mungkin ini yang membuat Ditto sempat maju mundur untuk mencoba, tapi aku yakinkan dia tidak ada salahnya mencoba. Kalau memang tidak selesai karena melampaui time limit yang tersedia, tidak akan menjadi masalah. Semua ‘kerepotan’ ini tidak akan sia-sia bahkan akan menjadi pengalaman tersendiri.

Aku yakinkan dia kalau mengurus dokumen di birokrasi pemerintah itu bukan momok yang harus dihindari melainkan dihadapi, dicoba untuk diurai dan dipenuhi prosedurnya.

Pengalaman mengurus bebas fiskal untuk misi budaya beberapa waktu yang lalu dapat menjadi acuan bahwa hal serumit apapun kelihatannya, akan lebih jernih setelah kita jalani langkah demi langkah.

Setelah semuanya siap, dengan berbekal doa berkaspun diantar ke Diknas.

Tidak lebih dari 15 menit semuanya selesai, 15 menit tanpa kesulitan dan masalah apapun…..

Petugas yang menerima sangat informatif dan banyak membantu. Terima kasih Ibu Las, you’ve been a big help.

Dilanjutkan dengan proses ke Embassy, yang semuanya simple tidak ada kesulitan sama sekali.

Sebelum jam 2 siang semua prosedur sudah selesai dan masih belasan hari dari tenggat waktu. Aku yakin Tuhan menjawab doa kami sehingga semuanya dapat berlangsung tanpa hambatan. Apakah akan berhasil atau tidak merupakan hal yang berbeda, tetapi proses pengurusannya simple, lancar dan tidak ditemui kesulitan sama sekali. Barangkali informasi yang didapat teman Ditto kurang tepat tapi satu pelajaran yang harus diambilnya, jangan berhenti sebelum mulai, jangan mundur pada saat melihat hambatan karena kadang kala penglihatan kita yang bias. Serta iringi segala sesuatu dengan doa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s