Rumah Masa Kecil

di-atas-pohon-jambu 25-nov-1968

Ada 2 hal yang menarik dari kedua foto ini, Pohon Kelapa yang difoto 25 November 1968 dan Pohon Jambu yang difoto beberapa bulan kemudian, masih ada sampai sekarang.

Kedua pohon itu masih berdiri kokoh di halaman rumah Sungai Buah.

Dimasa kecil, selalu ada perasaan ”nyaman” pada saat aku bermain atau tiduran di bawah Pohon Jambu dengan beralaskan rumput bahkan pada saat nangkring di atas pohon itu. Dan perasaan itu akan tetap sama setiap kali aku pulang ke rumah ini.

Sepertinya waktu berhenti ditempat ini, ia tidak berputar…………ia diam…….

Pohon Kelapa berjajar di keempat sisi pagar, Kembang Kenanga di jalan masuk ke teras, Kursi panjang diteras ( yang jadi tempat ”apel” dari jaman tante hingga adikku ), bahkan bak air dari batu di belakang rumah, semuanya masih tetap seperti dahulu, tidak ada yang berubah. Hanya kami yang pergi dan kemudian akan datang kembali dengan jumlah usia yang bertambah di raut dan penampilan.

Tiang garasi yang kutabrak saat belajar mengendarai Vespa Papa hingga ringsek (tiang dan Vespa sama-sama ringsek) tetapi tiang itu tetap berdiri hingga kini. Paviliun kecil di belakang rumah tempat aku menyendiri, atau sembunyi-sembunyi mencoba merokok, sudah dibongkar habis.

Lahan di belakang rumah tempat kandang Teddy, beruang peliharaan kami, penuh ditumbuhi rumput. Lahan itu pernah jadi tempat aku mencoba menanam ubi jalar dan jagung sampai aku sadar kalau aku tak berbakat sedikitpun untuk bercocok tanam.

Juga teras yang menjadi tempat pertemuan seluruh penghuni rumah pada saat melepas lelah. Aku selalu memperhatikan kalau ada satu orang saja yang keluar dan duduk di teras, tak lama kemudian pasti seluruh penghuni akan berkumpul di sana dan segera akan dipenuhi suara cakap, gelak, bahkan candaan hingga larut malam.

Tetapi teras ini sudah tak pernah ramai lagi, hanya satu atau dua penghuninya yang akan menyempatkan diri untuk duduk di sana mencoba menyecap kenangan yang tersaji.

Hal ini juga yang aku lakukan saat perasaan rindu itu membawaku pulang ke rumah ini….sekali…dua kali……

Pada saat aku mencoba membagi perasaan dengan suami dan anak-anak tentang nilai teras ini dalam keluarga besar ku, mereka menatap ku dengan mata yang berbicara : ”Mami ini ngomong apaan sih?”

Lain halnya kalau aku bercerita tentang teras ini atau acara bakar sampah dengan Eh, Mon atau Ron, mereka akan memberikan getar yang sama frekuensinya dan akan membuat kami menerawang ke masa lalu.

Hehehe…ternyata kenangan itu hanya dapat dibagi diantara kami yang menjalaninya, yang memiliki ”bahasa yang sama”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s