Hela Rotan VS Yamko Rambe Yamko

Kejadian ini sudah basi sebenarnya tapi dapat menjadi bahan perenungan bagi kita sebagai Bangsa yang amat majemuk. Apa mau kita? Apa yang harus kita lakukan?

Medio Juli 2008 yang lalu ada sekitar tigapuluhan remaja Jakarta yang tergabung dalam kelompok paduan suara melakukan serangkaian acara yang mereka namakan ”Spirit of Indonesia”.

Mereka mengadakan konser di beberapa tempat di Singapura dengan menampilkan belasan lagu-lagu karya anak bangsa termasuk lagu tradisional yang diaransemen ulang untuk kelompok paduan suara.

Proses untuk tampil di gedung konser di Singapura bukan perkara gampang, dari pengurusan ijin, asuransi, hingga hak cipta lagu harus dipenuhi.

Singkat kata, setelah tampil dalam konser di Singapura, mereka melanjutkan perjalanan ke Hong Kong untuk mengikuti lomba paduan suara internasional.

Pada saat kompetisi inilah anak-anak terhenyak saat paduan suara dari Singapura membawakan lagu Hela Rotan, Malay folksong, pada kategori Folklore.

Yang membuat mereka terperanjat bukan lagu Hela Rotan nya tetapi lagu yang mereka nyanyikan di Singapura dengan introduksi ”Ambon song” sekarang dinyanyikan orang asing sebagai ”Malay folksong”.

Sempat terlihat pemimpin paduan suara Indonesia memberikan catatan kepada panitia mengenai ”Malay folksong” tsb.

Pertanyaannya adalah, sebenarnya lagu yang sering dinyanyikan dari generasi ke generasi tersebut berasal dari mana? Siapa atau negara mana yang memiliki hak kekayaan intelektual atas lagu itu?

Dipenghujung perjalanan, kelompok paduan suara Indonesia ini menampilkan beberapa lagu Indonesia termasuk Yamko Rambe Yamko pada konser yang diadakan Phoenix TV dan akan ditayangkan pada pertengahan Agustus 2008.

Beberapa hari setibanya di Indonesia mereka menerima permintaan dari pihak penyelenggara konser untuk mengirimkan arti lagu Yamko Rambe Yamko.

Nah dimulailah pencarian ke hampir semua sumber yang memungkinkan. Dari para komposer sampai milis komunitas Papua, tidak dapat memberikan jawaban. Yang menarik adalah dari 300 an bahasa ibu di Papua, lagu ini tidak diketahui berasal dari suku mana apalagi memahami artinya.

Hingga saat konser itu ditayangkan di lebih dari 200 negara, hanya diberikan keterangan bahwa lagu tersebut berasal dari Propinsi Papua di Indonesia.

Dari sekelumit kejadian ini kita dapat memahami betapa kayanya, betapa beragamnya budaya Indonesia serta betapa tidak perdulinya kita kepada kekayaan yang satu ini.

Apakah karena terlalu beragamnya budaya kita hingga kita tidak mampu ’menjaga’ dan ’memiliki’ budaya kita sendiri?

Siapa yang berkompeten mendata ’kekayaan’ kita ini supaya tidak diakui oleh bangsa lain sebagai kekayaan budaya mereka? Jangan sampai anak cucu kita pada saat akan menampilkan lagu ’Cublak Cublak Suweng’ harus meminta ijin ke negara lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s