Bermodalkan konfirmasi booking hotel di Siem Reap via internet dan janji dari hotel untuk mengirim jemputan di bandara aku menaiki pesawat Silkair MI633 yang lepas landas tepat waktu dari Changi Airport. Penerbangan 2 jam 10 menit dengan hot meal dan tiba pukul 15.45 di Siem Reap International Airport.
Turun dari pesawat Silkair melalui tangga dan berjalan sepelemparan batu ke bangunan bandara sederhana seukuran Talang Betutu dulu. Begitu melewati pintu arrival hall sekitar 20 meter tiba pada antrian visa on arrival. Dengan fotokopi paspor, e-ticket dan pasfoto yang sudah disiapkan, ditambah 20 USD, tak sampai 10 menit aku sudah keluar dari bandara dan mencari supir yang membawa karton bertuliskan namaku.
Vutha, nama supir tuktuk itu dan begitu mendengar asalku dari Indonesia, ia bercerita kalau ayahnya fasih berbicara Bahasa Indonesia karena dulu tempat tinggal mereka dekat dengan komplek pasukan UNTAC PBB dari Indonesia.
Perjalanan 20 menit dengan tuktuk, kendaraan mirip bajaj tapi lebih besar dan hanya beratap, mengantarku ke penginapan “Golden Temple Villa”. Ternyata hotel ini terletak di jalan kecil masuk dari Sivatha Boulevard yang rusak dan berdebu. Hotel ini dipilih setelah mempertimbangkan beberapa testimoni pengunjung hotel yang dimuat di Virtual Tourist. Pada awalnya sempat terbersit rasa kecewa tapi pada malam itu aku bersyukur hotel ini tidak berada di jalan utama Sivatha Blvd karena tidak begitu banyak kendaraan roda empat yang melalui jalan kecil ini sehingga debu tidak sebanyak di jalan Sivatha.

Teras Hotel

Kamar 68
Pada saat check in aku langsung membayar 3 USD untuk mengejar sunset di Phnom Bakheng memakai tuktuk Vutha. Hanya sempat meletakkan tas, mengambil kamera, aku kembali duduk di tuktuk Vutha menuju komplek Angkor Wat.
Tiba di pintu tiket aku ditawari pilihan tiket 2 hari seharga USD 40 atau 1 hari seharga USD 20. Karena sore itu sudah pukul 5 maka tanggal berlaku akan mulai dihitung besok, dengan pertimbangan itu aku memilih tiket sehari. Di tiket tercetak foto yang diambil melalui webcam, tanggal berlaku serta nationality. Tiket ini berlaku untuk memasuki seluruh candi di Siem Reap.


Monsoon sunset di Phnom Bakheng
Phnom Bakheng tidak terlalu penuh karena saat ini masih Monsoon dan faktor monsoon ini pula yang membuat sore itu mendung, awan tebal hingga sore mulai gelap…gagal misi sunset sore itu. Malam itu aku habiskan berjalan ke arah Pub Street 9 dan makan Fried Rice.
Kembali ke hotel aku pesan paket “Small Tour” plus sunrise yang dibandrol USD 12 dengan janji jam 4.30 pagi ditunggu Vutha di lobby.
Small Tour meliputi Angkor Wat, Angkor Thom, Victory Gate, Thommanom, Chau Say Thevoda, Ta Keo, Ta Prohm, Banteay Kdei, Sras Srang, Prasat Kravan. Semua candi ini terletak dalam suatu komplek besar. Sekitar pukul 3.30 pagi ….hujan. Aku turun ke lobby memanfaatkan komputer dan sarana internet yang tersedia hingga hujan berhenti sesaat menjelang pukul 5 pagi. Aku naik ke kamar dan meraih kamera lalu turun dan menemui Vutha yang sudah siap.
Sampai di Angkor Wat sudah ramai terutama turis yang tampaknya punya kesempatan..now or never sedang yang memiliki waktu lebih panjang di Siem Reap, memilih kesempatan esok hari.
Sekali lagi…monsoon..menyebabkan sunrise diliputi mendung.
Angkor Wat dikenal memiliki arsitektur yang simetris seluas 1,5 km x 1,3 km hingga merupakan bangunan religius terbesar. Batuan untuk membangun candi ini diambil dari daerah Svay Leu yang berjarak 50 km jauhnya.

Angkor Wat



Hingga terang baru kami beranjak ke candi lain, Bayon berada tepat di tengah Angkor Thom yang memiliki 5 pintu masuk. Terdapat 216 stupa di Bayon, terkenal dengan raut wajah yang dipercaya serupa dengan raja Jayavarman VII.
Bayon sedang dalam restorasi dengan biaya dari Japan Funds

Everpresent faces in Bayon, center of Angkor Thom

Bayon
Banyak dari candi kecil yang kurang menarik karena sudah tidak terlihat bentuknya, kulewati.
Ta Prohm menjadi sangat terkenal karena keunikan bersatunya alam dan bangunan buatan manusia. Keadaan candi ini dibiarkan dalam keadaan seperti pada saat ditemukan oleh peneliti Eropa pada pertengahan abad 19 kecuali beberapa penguatan struktur dan pembangunan jembatan atau undakan kayu untuk melindungi pohon yang melilit batuan candi.
Film Tomb Raider yang dibintangi Angelina Jolie sebagai Lara Croft menambah kepopuleran situs ini. Ta Prohm juga sedang dalam proses renovasi dengan bantuan pemerintah India.




Pekerja restorasi

The Apsaras
Sedangkan Srah Srang ( royal bath ) merupakan suatu baray, waduk penampung air sejak 9 abad yang lalu. Berukuran 700m x 350m dengan Singa penjaga dan Naga balustrade ( railing ).


Naga Balustrade
Hingga pukul 11 small tour ini selesai. Aku minta Vutha mengantar ke Banteay Srei yang cantik itu yang berada dalam paket Grand Tour, senilai USD10. Grand Tour mencakup Banteay Srei, Pre Rup, east Mebon, Ta Som, Neak Pean, Preah Khan dan North Gate of Angkor Thom.
Banteay Srei “berarti Citadel of the Woman” terletak 30 km sebelah barat Angkor Wat. Diyakini dibangun oleh tangan para wanita karena kehalusan dan rincinya ukiranini. Terdiri dari pink sandstone.

Banteay Srei

detail ukiran

Pre Rup

Banteay Samre
Sepanjang perjalanan kearah barat ini kehidupan penduduknya tampak berbeda dengan suasana pedesaan. Rumah berbentuk panggung tinggi dengan pemanfaatan kolong untuk tempat menyimpan traktor, lori hingga menjadi ruang santai dengan meja makan dan hammock.
Halamanpun digunakan untuk memasak snack kue kering yang terbuat dari santan dan gula. Setelah kering kue ini dibungkus daun kelapa dan dijual bersama buah tangan lain di saung pinggir jalan.

Rumah di pedesaan


Berjualan di halaman rumah

Coockies berbahan santan dan gula 1000 Riel segulungnya
Sekitar pukul 14 aku sudah kembali ke hotel dan memesan makan siang di coffee shop, “Khmer Amok” dan Ice Coffee. Amok terdiri dari pilihan daginga ayam, sapi atau babi yang dimasak bersama rajangan daun cauliflower dan bumbu Amok yang merupakan padanan rempah2. Aku memilih Chicken Amok…..Enak.

Chicken Khmer Amok
Sore itu kembali mendung bahkan lebih tebal dari kemarin, jadi tak ada gunanya memaksa ke Phnom Bakheng. Aku pergi kearah street 8 dan 9 mengunjungi toko yang menjual selendang dan taplak meja makan dari bahan semacam songket. Benar saja belum lewat jam 5 hujan mulai turun lagi. Malam itu aku memilih makan di kamar dengan memesan kacang panjang tumis with lots of mince meat.
Pagi itu acara bebas dan aku memilih keliling “Old Market”. Seperti di Vietnam, menyenangkan sekali keliling pasar dengan kamera, bebas tanpa gangguan dan tidak ada yang norak bergaya pada saat kamera dijepret, semua sibuk dengan aktifitasnya hanya kadang kala mereka tersenyum saat digoda yang lain. Walau tidak terbagi rapi berdasarkan jenis dagangan tapi menarik, karena kios yang menjual souvenir dan kain tenun mengelompok di 2 sisi luar pasar sedang 1 sisi yang lain diisi dengan penjual ikan asin. Di dalam los bercampur antara penjual ikan, ayam, sayuran, sepatu, makanan jadi dan salon kecantikan.


Kios makanan awetan dan ikan asin


Selesai di Old Market, aku berjalan kearah National Route No 6 melalui Sivatha Blvd. Tujuannya Royal Residence dan Royal Independence Gardens.

Ya-Tep Shrine di bawah rindang pohon tepat di tengah persimpanangan jalan National Route No.6

Royal Independence Garden

Tuktuk

Terrasse des Elephants di Sivatha Blvd
Jalan kembali ke hotel aku memilih jalan Oum Chay Street dan Achemean Street dan Pub Street.
Selepas makan siang aku kembali diantar Tuktuk ke Angkor National Museum dari sana berjalan menyusuri Pokambor Street ditepi Siem Reap River.

Piknik keluarga di tepi Siem Reap River

French Quarter

Ruang tunggu bandara
Kembali Vutha mengantar ke Bandara untuk kembalike Singapura dgn MI 636. Setelah check in, bayar airport tax USD 25 …heading back home.