Jeda 5 tahun tidak pulang membuat aku seperti terputus dari suasana dan aroma Palembang. Perjalanan pulang ke Palembang terakhir pada bulan Juni 2004 dengan memboyong seluruh keluarga sepertinya hampir pupus dari lamunan. Saat itu menjelang PON dan Palembang sedang bergeliat membangun infrastruktur jalan, hotel hingga stadion Jaka Baring.
Menyimak foto teman asal Semarang yang berkunjung ke Palembang membuat aku terbeliak melihat metamorfosa Bandara Sultan Mahmud Badarudin II yang semula ku kira Bandara Hang Nadim.
Dengan niat menonton Lomba Bidar akhirnya aku menjejak lagi di tanah ini pada Agustus 2009.
Hanya satu kalimat yang menggambarkan perubahan Palembang
….”Pacak nyasar di tempat tubu lahir”
Aku sama sekali tidak lagi mengenali jalan di kota ini, aku tidak tahu arah, aku tidak mengenali jalan ke arah rumah ku.
Inilah wajah baru kota Palembang di tanah bari ( lama ).
Tapi di sudut lain dari tanah ini ada yang tidak berubah selama ini… pemukiman di sepanjang tepi sungai…… Rumah Rakit dan segenap denyut kehidupannya.

Jembatan AMPERA dari arah Resto di Benteng Kuto Besak

Kemeriahan perayaan kemerdekaan, Telok Abang

Telok Abang

Telok Ukan

Mie Celor

Perjalanan ke Pulau Kemaro dengan tongkang

Di atas dockyard

sarana transportasi parkir di halaman rumah

Rumah Rakit

landmark Pulau Kemaro

jembatan ke Pulau Kemaro




"Pohon Jodoh"


Klinik Terapung


Keceriaan

Berpergian

Tumpukan karet basah

Di pengolahan

Lembar karet siap ekspor