Feeds:
Tulisan
Komentar

Aku lebih milih penerbangan pagi sekali karena lebih besar kemungkinan on time dibanding penerbangan siang, walau harus bangun jam 03.30 untuk flight Sriwijaya T50 tujuan Bandara Hanandjoedin, Tanjung Pandan. Sebelum pukul 9 kami sudah menyantap Mie Belitung yang kesohor itu di tempat Kai Cai. Tempatnya sederhana dalam gang kecil tanpa ac hanya 3 meja panjang diletakan menempel di dua sisi dinding lengkap dengan bangku kayu tapi yummy banget mienya, basonya.

Perut kenyang perjalanan lanjut ke arah Pantai Tanjung Kelayang yang terletak 27 km dari Tanjung Pandan. Sempat mampir ke Bukit Berahu Cottages di Tanjung Binga untuk istirahat dan menikmati juice Sirsak yang enak tapi sedikit terlalu manis karena dicampur Sprite.

Bukit Berahu Cottages membangun cottage dipinggir pantai sehingga dari parkir kita harus menuruni bukit melalui tangga kearah pantai sedangkan front desk, cafe dan kolam renang berada diatas bukit. Pantai ini teduh dinaungi pohon-pohon besar jadi….banyak nyamuknya.

DSC_0011

DSC_0024

DSC_0040

Sedang di Pantai Kelayang pepohonan tidak terlalu teduh tapi cukup menaungi pada saat beristirahat di saung atau tempat beristirahat yang terbuat dari semen.

DSC_0061

DSC_0062

DSC_0069

DSC_0066

Tengah hari perut sudah minta diisi lagi sehingga acara lunch diadakan di Cong Bu Resto di Tanjung Tinggi yang tidak jauh dari Tanjung Kelayar. Pantai di depan resto ini pun indah…. Udang masak kecapnya enak, Ikan Ilak Bakar…istimewa, Rajungan…gemuk padat, yang diambil dari kandang penyimpanan di pantai. Cuma yang perlu dipertimbangkan, harus menunggu agak lama jadi sinkronkan dengan situasi perut.

DSC_0103

View dari tempat duduk di dalam resto yang "setengah open air"

Setelah makan kami kembali mendatangi sisi lain dari Pantai Tanjung Tinggi ini yang menjadi lokasi shooting film Laskar Pelangi.

DSC_0113

DSC_0121

DSC_0124

Sekarang spot ini menjadi salah satu tujuan wisata dan penduduk setempat membangun tenda untuk beristirahat serta menyediakan makanan dan kelapa muda. Saat ini lokasi tsb masih bersih dan nyaman…semoga tetap bertahan tidak over exploited.

Kami kembali kearah Tanjung Kelayang untuk naik perahu ke Pulau Lengkuas. Pemandangan dalam perjalanan pun…memukau.

DSC_0137

DSC_0162

DSC_0164

Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas ini hanya dihuni oleh penjaga Mercusuar yang dibangun jaman Belanda tapi sejak dua tahun yang lalu sudah dilengkapi panel surya sebagai sumber energi. Mercusuar ini terdiri dari 19 lantai dan memiliki balkon di lantai 18 yang memberikan akses untuk melihat pemandangan sekeliling pulau…..amazing.

DSC_0229

Mercusuar peninggalan Belanda, sejak 2 th yl memakai tenaga surya

DSC_0178

DSC_0180

Hari mulai gelap saat perjalanan kembali ke Tanjung Pandan dan malam itu ditutup dengan makan malam di Tjie Lan Rest di jalan Madura.

Pada hari kedua, kegairahan dimulai dengan bangun pukul 04.45 dan sarapan di kedai Mie Belitung Kai Cai…lagi…. lanjut dengan pengembaraan di pasar yang tak pernah habisnya memberi kejutan. Banyaknya seafood…dari jumlah, jenis hingga kesegarannya, bahkan sayuran, cabai hingga kunyit bisa menaik perhatian kami.

Perjalanan di mulai ke arah Belitung Timur dan perhentian pertama di Kuil Kwan Im yang dibangun diatas bukit. Tidak banyak yang menarik di sini kecuali anjing yang bermata unik, berwarna kuning.

DSC_0309

Pantai Burung Mandi yang didatangi kemudian menuju Rest Fega di Manggar.

DSC_0313

Pantai Burung Mandi

DSC_0322

DSC_0379

Ikan Ilak Tim dan Udang Bakar

DSC_0380

Kakap Merah masak Asem Pedes

Harus dicoba Ikan masak Rempa Nanas yang belum sempat difoto sudah hampir tandas… Catatan lain…ikan Ilak lebih enak di bakar dibanding dengan ditim.

Perjalanan menuju Gantung melalui Bukit Samak hingga tiba di SDN 9 Gantung yang menjadi lokasi shooting Laskar Pelangi.

DSC_0390

DSC_0382

DSC_0399

Bendungan Pice

Sepertinya cuaca panas mendorong pak Samsuri, yang mengantar kami keliling, membawa kami ke permandian Jeri, …somewhere menjelang persimpangan kearah Membalong dan Tanjung Pandan. Tempat ini teduh, airnya jernih dan sejuk.

DSC_0425

DSC_0461

DSC_0468

Yang menarik dari Belitung ini, sulit menemukan tempat sampah tapi tidak banyak sampah yang bertebaran. Maksud ku, sampah organik memang banyak tapi yang biasa mengganggu pandangan biasanya sampah plastik. Masyarakat di sini terbiasa menyapu halaman dan membakar habis sampahnya. Mungkin penggunaan daun Simpur yang mengurangi sampah palstik.

Pantai Tanjung Pendam yang berada di tengah kota Tanjung Pandan pun bersih kalau disandingkan dengan pantai Ancol. Sayang mendung menghalangi sunset yang dinanti sore itu.

DSC_0480

Tanjung Pendam

DSC_0476

Mendung

DSC_0522

Mie Belitung di atas daun Simpur sebelum ditambahkan bahan lain. Pilihannya daging cincang atau daging ikan dirajang halus

DSC_0555

Tanaman Simpur yang masih muda

DSC_0548

Belitung....a paradise on earth.

Bermodalkan konfirmasi booking hotel di Siem Reap via internet dan janji dari hotel untuk mengirim jemputan di bandara aku menaiki pesawat Silkair MI633 yang lepas landas tepat waktu dari Changi Airport. Penerbangan 2 jam 10 menit dengan hot meal dan tiba pukul 15.45 di Siem Reap International Airport.

Turun dari pesawat Silkair melalui tangga dan berjalan sepelemparan batu ke bangunan bandara sederhana  seukuran Talang Betutu dulu. Begitu melewati pintu arrival hall sekitar 20 meter tiba pada antrian visa on arrival. Dengan fotokopi paspor, e-ticket dan pasfoto yang sudah disiapkan, ditambah 20 USD, tak sampai 10 menit aku sudah keluar dari bandara dan mencari supir yang membawa karton bertuliskan namaku.

Vutha, nama supir tuktuk itu dan begitu mendengar asalku dari Indonesia, ia bercerita kalau ayahnya fasih berbicara Bahasa Indonesia karena dulu tempat tinggal mereka dekat dengan komplek pasukan UNTAC PBB dari Indonesia.

Perjalanan 20 menit dengan tuktuk, kendaraan mirip bajaj tapi lebih besar dan hanya beratap, mengantarku ke penginapan “Golden Temple Villa”. Ternyata hotel ini terletak di jalan kecil masuk dari Sivatha Boulevard yang rusak dan berdebu. Hotel ini dipilih setelah mempertimbangkan beberapa testimoni pengunjung hotel yang dimuat di Virtual Tourist. Pada awalnya sempat terbersit rasa kecewa tapi pada malam itu aku bersyukur hotel ini tidak berada di jalan utama Sivatha Blvd karena tidak begitu banyak kendaraan roda empat yang melalui jalan kecil ini sehingga debu tidak sebanyak di jalan Sivatha.

 

Cambodia 278

Teras Hotel

 

Cambodia 217

Kamar 68

Pada saat check in aku langsung membayar 3 USD untuk mengejar sunset di Phnom Bakheng memakai tuktuk Vutha. Hanya sempat meletakkan tas, mengambil kamera, aku kembali duduk di tuktuk Vutha menuju komplek Angkor Wat.

Tiba di pintu tiket aku ditawari pilihan tiket 2 hari seharga USD 40 atau 1 hari seharga USD 20. Karena sore itu sudah pukul 5 maka tanggal berlaku akan mulai dihitung besok, dengan pertimbangan itu aku memilih tiket sehari. Di tiket tercetak foto yang diambil melalui webcam, tanggal berlaku serta nationality. Tiket ini berlaku untuk memasuki seluruh candi di Siem Reap.

tiket

Cambodia 002

Monsoon sunset di Phnom Bakheng

Phnom Bakheng tidak terlalu penuh karena saat ini masih Monsoon dan faktor monsoon ini pula yang membuat sore itu mendung, awan tebal hingga sore mulai gelap…gagal misi sunset sore itu. Malam itu aku habiskan berjalan ke arah Pub Street 9 dan makan Fried Rice.

Kembali ke hotel aku pesan paket “Small Tour” plus sunrise yang dibandrol USD 12 dengan janji jam 4.30 pagi ditunggu Vutha di lobby.

Small Tour meliputi Angkor Wat, Angkor Thom, Victory Gate, Thommanom, Chau Say Thevoda, Ta Keo, Ta Prohm, Banteay Kdei, Sras Srang, Prasat Kravan. Semua candi ini terletak dalam suatu komplek besar. Sekitar  pukul 3.30 pagi ….hujan. Aku turun ke lobby memanfaatkan komputer dan sarana  internet yang tersedia hingga hujan berhenti sesaat menjelang pukul 5 pagi. Aku naik ke kamar dan meraih kamera lalu turun dan menemui Vutha yang sudah siap.

Sampai di Angkor Wat sudah ramai terutama turis  yang tampaknya punya kesempatan..now or never sedang yang memiliki waktu lebih panjang di Siem Reap, memilih kesempatan esok hari.

Sekali lagi…monsoon..menyebabkan sunrise diliputi mendung.

Angkor Wat dikenal memiliki arsitektur yang simetris seluas 1,5 km x 1,3 km hingga merupakan bangunan religius terbesar. Batuan untuk membangun candi ini diambil dari daerah Svay Leu yang berjarak 50 km jauhnya.

Cambodia 028

Angkor Wat

Cambodia 030

Cambodia 055

Cambodia 066

Hingga terang baru kami beranjak ke candi lain, Bayon berada tepat di tengah Angkor Thom yang memiliki 5 pintu masuk. Terdapat 216 stupa di Bayon, terkenal dengan raut wajah yang dipercaya serupa dengan raja Jayavarman VII.

Bayon sedang dalam restorasi dengan biaya dari Japan Funds

Cambodia 079

Everpresent faces in Bayon, center of Angkor Thom

Cambodia 077

Bayon

Banyak dari candi kecil yang kurang menarik karena sudah tidak terlihat bentuknya, kulewati.

Ta Prohm menjadi sangat terkenal karena keunikan bersatunya alam dan bangunan buatan manusia. Keadaan candi ini dibiarkan dalam keadaan seperti pada saat ditemukan oleh peneliti Eropa pada pertengahan abad 19 kecuali beberapa penguatan struktur dan pembangunan jembatan atau undakan kayu untuk melindungi pohon yang melilit batuan candi.

Film Tomb Raider yang dibintangi Angelina Jolie sebagai Lara Croft menambah kepopuleran situs ini. Ta Prohm juga sedang dalam proses renovasi dengan bantuan pemerintah India.

Cambodia 091

Cambodia 093

Cambodia 103

Cambodia 090

Pekerja restorasi

Cambodia 111

The Apsaras

Sedangkan Srah Srang ( royal bath ) merupakan suatu baray, waduk penampung air sejak 9 abad yang lalu. Berukuran 700m x 350m  dengan Singa penjaga dan Naga balustrade ( railing ).

Cambodia 122

Cambodia 124

Naga Balustrade

Hingga pukul 11 small tour ini selesai. Aku minta Vutha mengantar ke Banteay Srei yang cantik itu yang berada dalam paket Grand Tour, senilai USD10. Grand Tour mencakup Banteay Srei, Pre Rup, east Mebon, Ta Som, Neak Pean, Preah Khan dan North Gate of Angkor Thom.

Banteay Srei “berarti Citadel of the Woman” terletak 30 km sebelah barat Angkor Wat. Diyakini dibangun oleh tangan para wanita karena kehalusan dan rincinya ukiranini. Terdiri dari pink sandstone.

Cambodia 156

Banteay Srei

Cambodia 166

detail ukiran

Guardian Lion

Pre Rup

Cambodia 207

Banteay Samre

 

Sepanjang perjalanan kearah barat ini kehidupan penduduknya tampak berbeda dengan suasana pedesaan. Rumah berbentuk panggung tinggi dengan pemanfaatan kolong untuk tempat menyimpan traktor, lori hingga menjadi ruang santai dengan meja makan dan hammock.

Halamanpun digunakan untuk memasak snack kue kering yang terbuat dari santan dan gula. Setelah kering kue ini dibungkus daun kelapa dan dijual bersama buah tangan lain di saung pinggir jalan.

 

Cambodia 172

Rumah di pedesaan

 

Cambodia 129

Cambodia 171

Berjualan di halaman rumah

 

Cambodia 215

Coockies berbahan santan dan gula 1000 Riel segulungnya

Sekitar pukul 14 aku sudah kembali ke hotel dan memesan makan siang di coffee shop, “Khmer Amok” dan Ice Coffee. Amok terdiri dari pilihan daginga ayam, sapi atau babi yang dimasak bersama rajangan daun cauliflower dan bumbu Amok yang merupakan padanan rempah2. Aku memilih Chicken Amok…..Enak.

Cambodia 211

Chicken Khmer Amok

Sore itu kembali mendung bahkan lebih tebal dari kemarin, jadi tak ada gunanya memaksa ke Phnom Bakheng. Aku pergi kearah street 8 dan 9 mengunjungi toko yang menjual selendang dan taplak meja makan dari bahan semacam songket. Benar saja belum lewat jam 5 hujan mulai turun lagi. Malam itu aku memilih makan di kamar dengan memesan kacang panjang tumis with lots of mince meat.

Pagi itu acara bebas dan aku memilih keliling “Old Market”. Seperti di Vietnam, menyenangkan sekali keliling pasar dengan kamera, bebas tanpa gangguan dan tidak ada yang norak bergaya pada saat kamera dijepret, semua sibuk dengan aktifitasnya hanya kadang kala mereka tersenyum saat digoda yang lain. Walau tidak terbagi rapi berdasarkan jenis dagangan tapi menarik, karena kios yang menjual souvenir dan kain tenun mengelompok di 2 sisi luar pasar sedang 1 sisi yang lain diisi dengan penjual ikan asin. Di dalam los bercampur antara penjual ikan, ayam, sayuran, sepatu, makanan jadi dan salon kecantikan.

 

Cambodia 241

 

Cambodia 236

Kios makanan awetan dan ikan asin

Cambodia 225

 

Cambodia 233

 

Selesai di Old Market, aku berjalan kearah National Route No 6 melalui Sivatha Blvd. Tujuannya Royal Residence dan Royal Independence Gardens.

Cambodia 249

Ya-Tep Shrine di bawah rindang pohon tepat di tengah persimpanangan jalan National Route No.6

 

Cambodia 272

Royal Independence Garden

 

Cambodia 245

Tuktuk

 

Cambodia 218

Terrasse des Elephants di Sivatha Blvd

Jalan kembali ke hotel aku memilih jalan Oum Chay Street dan Achemean Street dan Pub Street.

Selepas makan siang aku kembali diantar Tuktuk ke Angkor National Museum dari sana berjalan menyusuri Pokambor Street ditepi Siem Reap River.

 

Cambodia 279

Piknik keluarga di tepi Siem Reap River

 

French Quarter di Pokambor Street

French Quarter

 

Cambodia 288

Ruang tunggu bandara

Kembali Vutha mengantar ke Bandara untuk kembalike Singapura dgn MI 636. Setelah check in, bayar airport tax USD 25 …heading back home.

 

Jeda 5 tahun tidak pulang membuat aku seperti terputus dari suasana dan aroma Palembang.  Perjalanan pulang ke Palembang terakhir pada bulan Juni 2004 dengan memboyong seluruh keluarga sepertinya hampir pupus dari lamunan. Saat itu menjelang PON dan Palembang sedang bergeliat membangun infrastruktur jalan, hotel hingga stadion Jaka Baring.

Menyimak foto teman asal Semarang yang berkunjung ke Palembang membuat aku terbeliak melihat metamorfosa Bandara Sultan Mahmud Badarudin II yang semula ku kira Bandara Hang Nadim.

Dengan niat menonton Lomba Bidar akhirnya aku menjejak lagi di tanah ini pada Agustus 2009.

Hanya satu kalimat yang menggambarkan perubahan Palembang

….”Pacak nyasar di tempat tubu lahir”

Aku sama sekali tidak lagi mengenali jalan di kota ini, aku tidak tahu arah, aku tidak mengenali jalan ke arah rumah ku.

Inilah wajah baru kota Palembang di tanah bari ( lama ).

Tapi di sudut lain dari tanah ini ada yang tidak berubah selama ini… pemukiman di sepanjang tepi sungai…… Rumah Rakit dan segenap denyut kehidupannya.

Palembang 148

Jembatan AMPERA dari arah Resto di Benteng Kuto Besak

Palembang 189

Kemeriahan perayaan kemerdekaan, Telok Abang

Palembang 188

Telok Abang

Palembang 191

Telok Ukan

Palembang 197

Mie Celor

Palembang 046

Perjalanan ke Pulau Kemaro dengan tongkang

Palembang 043

Di atas dockyard

Palembang 039

sarana transportasi parkir di halaman rumah

Palembang 048

Rumah Rakit

Palembang 054

landmark Pulau Kemaro

Palembang 062

jembatan ke Pulau Kemaro

Palembang 076

Palembang 089

Palembang 102

Palembang 101

"Pohon Jodoh"

Palembang 114

Palembang 241

Klinik Terapung

Palembang 235

Palembang 036

Keceriaan

Palembang 248

Berpergian

Palembang 016

Tumpukan karet basah

Palembang 013

Di pengolahan

Palembang 015

Lembar karet siap ekspor

I left my heart…….

Hari itu ia melepas genggamannya dari ku untuk menjalani hari-harinya di Singapura tapi ia tak pernah lepas dari hati dan doa ku.

Saat aku berpaling dan beranjak dari tempat itu…sebagian hati dan jiwaku tertinggal di sana bersama Ditto.

Aku menghabiskan waktu menunggu bis dengan memandang lekat pintu kamarnya dan segala gerak geriknya di laundry room.

Picture 003_resized

Picture 004_resized

Picture 015_resized

Picture 013_resized

Picture 011_resized

Picture 016_resized

Tulisan Sebelumnya »